A. Pendahuluan
Gerak adalah ciri
kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu
bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan
kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu :
Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.
Bahkan manusia masih berada dalam kandungan sudah melakukan gerakkan
yang merupakan fase gerak reflek.
Dalam
kehidupan seorang anak saat mencapai usia tahun kedua, adanya
tanda-tanda perubahan yang dapat diamati bagaimana cara mereka
berhubungan dengan sekitarnya, dan di penghujung usia
yang kedua, mereka telah menguasai kemampuan gerak dasar yang
dikembangkan sepanjang masa kanak-kanak. Bentuk kemampuan gerak ini
adalah dasar yang dikembangkan tiap-tiap anak atau pola-pola gerak dasar
pada masa kanak-kanak dini dan keterampilan pergerakan khusus pada masa
kanak-kanak setelahnya serta masa remaja. Anak-anak tidak lagi
dihentikan oleh ketidakmampuan untuk bergerak bebas atau dibatasi oleh
tempat tidur mereka atau tempat bermain mereka. Sekarang mereka mampu
menyelidiki potensi pergerakan tubuh mereka dengan bergerak antar ruang
(daya gerak). Mereka tidak lagi tak berdaya melawan gaya gravitasi
tetapi memperoleh peningkatan kontrol melalui kemampuannya terhadap
gravitasi (stabilitas). Mereka tidak harus lagi melakukan raihan-raihan
kasar yang tidak efektif, menggenggam, melepas benda-benda tertentu pada
masa kanak-kanaknya tetapi dengan cepat mengembangkan kemampuannya
untuk mengontrol dan melakukan kontak dengan objek secara akurat dalam
lingkungannya (memanipulasi).
Anak-anak
balita terlibat dengan proses pengembangan dan penyaringan kemampuan
gerak dasar pada berbagai macam stabilitas/keseimbangan, daya gerak, dan
pergerakan manipulatif. Artinya mereka harus terlibat dalam serangkaian
pengalaman-pengalaman yang terkoordinasi dan berkembang untuk
meningkatkan pemahaman tubuh dan potensinya untuk bergerak. Pengembangan
pola gerak tidak hanya
diperhatikan secara khusus pada pengembangan keterampilan tingkat tinggi
dari sejumlah situasi pergerakan tertentu, tetapi juga pada
pengembangan tingkat kecakapan (profisiensi) dan mekanik tubuh efisien
yang dapat diterima dalam berbagai macam situasi pergerakan. Suatu gerak dasar
melibatkan elemen dasar dari pergerakan tertentu saja. Gerak dasar ini
tidak mencakup gaya-gaya individu atau penampilan unik personal. Gerak
dasar juga tidak menekankan pada variasi-variasi gerak dasar yang masuk
ke dalam keterampilan kompleks seperti lay-up shot dalam bola basket
atau latihan lantai rutin dalam olahraga senam. Tiap-tiap pola gerak
pertama kali harus terbebas antara satu gerak dengan lainnya, dan baru
dihubungkan dengan gerak lainnya dalam berbagai macam kombinasi.
Pergerakan-pergerakan dari daya gerak berlari, melompat dan melenting,
atau pergerakan-pergerakan manipulatif dari melempar, menangkap,
menendang, dan mengait merupakan
contoh-contoh kemampuan gerak dasar. Pergerakan-pergerakan ini lalu
dikombinasikan dan ditingkatkan dalam berbagai macam cara .
Pengembangan kemampuan gerak dasar merupakan dasar bagi pengembangan gerak anak.
1. Menurut
Johnson (1962), menggunakan sejumlah contoh anak laki-laki dan wanita
dari kelas 1 sampai 6, ditemukan bahwa rata-rata angka pada item variasi
performa gerak menunjukkan tren naik definit hingga kelas lima.
2. Menurut
Cratty dan Martin (1969) menyajikan urutan keterkaitan usia terhadap
pencapaian dari berbagai macam daya gerak, manipulatif dan kemampuan
perseptual dari 365 anak yang berusia 4 hingga 12 tahun.
3. Menurut
Williams’s (1970) rangkuman kemampuan gerak anak antara 3 – 6 tahun
mengungkapkan bentuk pergerakan lebih lanjut seiring peningkatan usia.
4. Menurut
Sinclair (1973) mempelajari pengembangan gerak anak berusia 2 – 6
tahun. Hasil analisis film panjang dari 25 uji gerak selama interval 6
bulan memberikan asumsi dasar bahwa gerak adalah sebuah proses
pengembangan selama awal masa kanak-kanak
B. Pembahasan
1. Anak-anak
memiliki potensi pengembangan untuk memasuki usia matang dari sebagian
besar keterampilan gerak dasar pada usia 6 tahun.
Studi
pengembangan gerak normatif ini menarik dan informatif berisikan
kuantitas dan hasil gerak yang mereka sebut “berapa jauh”, “berapa
cepat”, “berapa banyak”. Hasilnya, sejumlah investigator, untuk menganalisis aspek intraskill
dari berbagai macam pola-pola gerak dasar, mulai menggumpulkan data
untuk membawa menuju tahap konsep pengembangan gerak sepanjang awal masa
kanak-kanak, sebagai berikut :
1) Menurut
(Halverson dan Roberton, 1966, 1979, Seefeldt, 1972, Wild, 1938).
Seefeldt dan Haubenstricker (1976) dan beberapa lainnya melakukan
penyelidikan penting ke dalam urutan intraskill
dari berbagai macam uji-uji gerak dasar. Hasil dari investigasi ini
menghasilkan 3 metode tabel populer tahap klasifikasi anak dalam
pengaturan observasi aktual.
2) Menurut
McClenaghan dan Gallahue (1978b), dan Seefelt dan Haubenstricker (1976)
telah sukses digunakan dalam penilaian observasi pada anak-anak. Metode
Roberton memperluas tahap teori pada analisis komponen terpisah gerak
di dalam pola yang diberikan dan biasanya disebut dengan pendekatan analisis bagian. Metode Seefeldt memberikan skor tahap klasifikasi keseluruhan (tahap1 sampai tahap 5) dan disebut dengan pendekatan konfigurasi tubuh total.
3) Menurut
Gallahue (1996) baru-baru ini memperluas dan merevisi metode
tahap-tahap pengidentifikasian McClenaghan-Gallahue (1978) di dalam fase
gerak dasar. Dalam buku Developmental Physical Education for Today’s Children (1996) ia menawarkan sebuah sistem praktis, mudah digunakan, dan terpercaya untuk mengklasifikasikan individu pada tahap-tahap dini, dasar, matang, atau tahap terampil olahraga,
bersama dengan berbagai macam pengalaman gerak yang sesuai untuk
dikembangkan untuk tiap-tiap tahap dalam 23 keterampilan gerak dasar.
Metode ini mendorong penggunaan baik pendekatan secara konfigurasi tubuh
total maupun pendekatan analisis bagian untuk menilai pengembangan pola
gerak dasar.
2. Beberapa teknik efektif telah diusulkan untuk penilaian observasi pola-pola gerak dasar.
Tidak
semua pola gerak cocok dengan kemajuan tiga tahap yang ada. Aspek-aspek
pengembangan dari beberapa gerak mungkin lebih lengkap digambarkan ke
dalam empat, lima, atau bahkan delapan urutan tahap, tergantung pada
pola spesifik dan tingkat kepuasan pengamat. Pendekatan tiga tahap
digunakan pada bagian berikut karena pendekatan ini akurat dan cukup pas
dalam urutan pengambangan pada banyak pola-pola gerak dasar dan
memberikan dasar untuk alat penilaian observasi yang terpercaya dan
mudah digunakan, diantaranya sebagai berikut :
1) Urutan Kemunculan Kemampuan Keseimbangan yang Dipilih
|
Pola Gerak
|
Kemampuan yang Dipilih
|
Pendekatan Usia Subjek
|
|
Keseimbangan Dinamis
Keseimbangan dinamis mencakup
menjaga keseimbangan seseorang
seiring pergeseran pusat gravitas
|
· Berjalan lurus 1 inch (2,5 cm)
· Berjalan melingkar 1 inch (2,5 cm)
· Berdiri pada balok seimbang yang rendah
· Berjalan pada balok selebar 4 inch (10 cm) jarak dekat
· Berjalan pada balok yang sama, dengan kaki bergantian
· Berjalan pada balok 2 atau 3 inch (5,1 atau 7,6 cm)
· Melakukan guling depan tahap dasar
· Melakukan guling depan tahap matang
|
3 tahun
4 tahun
2 tahun
3 tahun
3–4 tahun
4 tahun
3–4 tahun
6–7 tahun
|
|
Keseimbangan Statis
Keseimbangan statis mencakup menjaga keseimbangan seseorang ketika pusat gravitasi tetap
|
· Bangunkan untuk posisi berdiri
· Berdiri tanpa pegangan tangan
· Berdiri sendiri
· Keseimbangan di atas satu kaki 3 – 5 detik
· Dukung tubuh untuk mencapai posisi dasar terbalik 3 titik
|
10 bulan
11 bulan
12 bulan
5 tahun
6 tahun
|
|
Pergerakan Aksial
Pergerakan aksial adalah postur statis yang mencakup melentur, meregang, membengkok, memutar dan sejenisnya
|
Kemampuan pergerakan aksial dimulai untuk
pengembangan
dini masa kanak-kanak dan makin tersaring pada suatu titik di mana
mereka mulai memunculkan pola-pola manipulatif seperti melempar, menangkap, menendang, memukul, mengait, dan aktivitas lain
|
|
*Anak-anak
memiliki “potensi” pengembangan untuk memasuki tahap matang. Pencapaian
aktual tergantung pada faktor-faktor termasuk tugas, individu, dan
lingkungan
2) Urutan Kemunculan Kemampuan Daya Gerak yang Dipilih
|
Pola Gerak
|
Kemampuan yang Dipilih
|
Pendekatan Usia Subjek
|
|
Berjalan
Berjalan mencakup menempatkan
satu kaki di depan kaki satunya
saat menjaga kontak dengan
permukaan
|
· Berjalan tegak lurus tanpa bantuan
· Berjalan menyamping
· Berjalan mundur
· Menaiki anak tangga dengan bantuan
· Menaiki anak tangga sendiri – mengikuti langkah
· Menuruni anak tangga sendiri – mengikuti langkah
|
13 bulan
· 16 bulan
· 17 bulan
· 20 bulan
· 24 bulan
25 bulan
|
|
Berlari
Berlari mencakup periode singkat
kontak dengan permukaan
|
· Jalan cepat (menjaga kontak)
· Benar-benar lari (fase tanpa dukungan)
· Lari efisien
· Kecepatan lari meningkat, lari tahap matang
|
18 bulan
2–3 tahun 4–5 tahun
5 tahun
|
|
Melompat
Melompat terdiri dari tiga bentuk :
(1) melompat mencapai jarak
(2) melompat mencapai tinggi, dan
(3) melompat dari suatu ketinggian melompat mencakup lepas landas dengan 1 atau 2 kaki dan mendarat dengan dua kaki
|
· Turun dari objek yang rendah
· Melompat ke bawah dari objek dengan satu kaki
· Melompat dari lantai dengan kedua kaki
· Melompat mencapai jarak (sekitar 3 ft / 1 m)
· Melompat mencapai tinggi (sekitar 1 ft / 30 cm)
· Pola melompat tahap matang
|
18 bulan
2 tahun
28 bulan
5 tahun
5 tahun
6 tahun
|
|
Meloncat
Meloncat mencakup lepas landas dengan satu kaki dan mendarat dengan kaki yang sama
|
· Meloncat sampai 3 kali pada kaki yang sama
· Meloncat 4 – 6 kali pada kaki yang sama
· Meloncat 8 – 10 kali pada kaki yang sama
· Meloncat sejarak 50 feet (15 m) sekitar 11 detik
· Meloncat dengan terampil dengan perubahan irama,
pola matang
|
3 tahun
4 tahun
5 tahun
5 tahun
6 tahun
|
|
Mencongklang
Congklang adalah kombinasi jalan dan melompat dengan kaki yang sama
|
· Dasar tetapi congklang yang tidak efektif
· Mencongklang dengan terampil, pola matang
|
4 tahun
6 tahun
4 tahun
|
|
Lompat Tali
Lompat tali mengkombinasikan langkah dan loncatan dengan suatu perubahan irama
|
· Loncat tali dengan satu kaki
· Lompat tali dengan terampil (sekitar 20%)
· Lompat tali dengan terampil semuanya*
|
4 tahun
5 tahun
6tahun
|
*
Anak-anak memiliki “potensi” pengembangan untuk memasuki tahap matang.
Pencapaian aktual tergantung pada faktor-faktor termasuk tugas,
individu, dan lingkunngan
3. Kondisi Gerak
Fase
pengembangan gerak dasar telah dipelajari secara luas beberapa tahun
belakangan ini. Sebagian besar sepakat bahwa fase ini mengikutsertakan
sebuah perkembangan yang dapat dibagi menjadi beberapa tahap. Kemajuan
anak normal secara kognitif dan fisik dari satu tahap ke tahap lainnya
dalam cara yang berurutan dipengaruhi oleh kematangan maupun pengalaman.
Anak-anak tidak dapat mempercayakan begitu saja pada kematangan untuk
mencapai tahap matang dalam kemampuan gerak dasarnya. Kondisi lingkungan
yang mencakup kesempatan melakukan praktik, memberikan dorongan, dan
instruksi adalah penting untuk pengembangan pola matang dari gerak
dasar, hal ini sesuai dengan temuan :
1) Miller
(1978) menyelidiki fasilitas dari pembelajaran keterampilan gerak dasar
anak usia 3 – 5 tahun. Ia temukan bahwa program instruksi dapat
meningkatkan pengembangan pola gerak dasar melalui tingkatan yang
dicapai daripada hanya sekedar mengandalkan kematangan. Ia juga
menemukan bahwa program terinstruksi dalam pengembangan keterampilan
lebih efektif daripada program bermain gratis dan karenanya orang tua
yang bekerja melalui arahan-arahan dari instruktur spesialis dapat sama
efektifnya dengan guru pendidikan jasmani itu sendiri dalam pengembangan
keterampilan gerak dasar.
2) Luedke
(1980) menemukan hasil yang serupa, dengan memanfatkan dua metode
instruksi melempar yang berbeda pada tahap matang dengan empat tingkatan
anak laki-laki dan wanita. Kedua kelompok instruksi tersebut menjadi
lebih pandai dalam bentuk dan performa daripada kelompok yang tidak
diberikan instruksi. Interaksi lingkungan dan yang bergerak, serta
tujuan pengujian dan yang bergerak, memiliki pengaruh yang dramatis
terhadap pengembangan kematangan dari pengujian gerak dasar yang
diobservasi.
a. Kemajuan
tahap matang dari pola gerak dasar tergantung pada berbagai macam
faktor-faktor yang dialami, termasuk kesempatan melakukan praktik,
memberikan dorongan, dan instruksi dalam suatu lingkungan yang kondusif
untuk dipelajari.
Kondisi-kondisi
alami termasuk lingkungan itu sendiri – seperti suhu, pencahayaan, luas
permukaan, dan gravitasi – dapat mempengaruhi aspek kuantitatif dari
uji gerak begitu juga aspek kualitatif. Begitu pula, kondisi buatan
seperti ukuran, bentuk, warna, dan tekstur dari suatu objek dapat
mempengaruhi performa secara dramatis hal ini sesuai dengan temuan :
a.) (Payne
dan Isaacs, 1995). Lebih jauh lagi, kondisi-kondisi seperti kecepatan
objek, jalur, dan beratnya dapat mempengaruhi suksesnya intersepsi.
Tujuan dari uji itu sendiri berpengaruh penting bagi status pengujian
gerak dasar pengembangan yang diobservasi. Jika, sebagai contoh,
difokuskan pada akurasi melempar, mungkin pada pelemparan permainan darts,
maka itu masuk akal jika diasumsikan bahwa pola geraknya akan berbeda
jika dibanding tujuan pengujiannya untuk melempar mencapai jarak
tertentu.
b.) Langendorfer
(1988) mengobservasi dua kelompok subjek (anak-anak dan dewasa)
menampilkan pola melempar dengan dua kondisi tujuan berbeda (kekuatan
dan akurasi). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pola gerak tidaklah
mutlak tergantung pada keadaan lingkungan. Beberapa individu dapat
mengakomodasi gerak mereka untuk menggeser mengatasi hambatan
lingkungan, tetapi beberapa lainnya tidak dapat. Individu yang terbatas
kemampuannya untuk meningkatkan kecepatan lemparannya (akibat sistem
mekanik yang tidak efisien atau karena kurangnya kekuatan) hanya akan
dapat membuat penyesuaian yang sedikit saat berubah dari uji akurasi
lemparan menuju ke uji jarak lemparan.
Mata
rantai antara yang berpindah, kondisi lingkungan, dan kebutuhan akan
pengujian itu sendiri tidak dapat dimengerti secara penuh. Menarik untuk
dicatat bahwa banyak dari gambaran pengembangan dari pola-pola gerak
dasar yang mengikuti dibuat secara laboratorium, mereka menghipotesis
urutan pengembangan yang merupakan hasil riset dalam pengaturan buatan
yang tidak serupa dengan kenyataan pergerakan anak. Hanya sedikit
pengetahuan, tentang perubahan konteks lingkungan dan pengaruhnya pada
status pengembangan gerak anak yang diobservasi. Seiring perubahan
metode yang kita gunakan menjadi metode analisis gerak anak yang memakai
pengaturan yang lebih alami kita mungkin akan dapatkan tahap
pengembangan hipotesis ini menjadi sedikit banyak berbeda. Titik ini
diutarakan oleh Roberton (1987), yang menunjukkan bahwa para peneliti
telah begitu peduli dengan perubahan gambaran pada karakteristik gerak
para partisipan penelitian dimana mereka seringkali gagal
mempertimbangkan pengaruh kuat dari elemen-elemen lainnya (seperti
kondisi lingkungan, dan tujuan pengujian) dalam menghasilkan status
pengembangan pola gerak dasar yang diobservasi itu sendiri.
Ketika
mengobservasi dan menganalisis kemampuan gerak dasar anak, akan segera
tampak bahwa ada berbagai macam tahap pengembangan untuk tiap-tiap pola
gerak. Akan menjadi jelas pula bahwa perbedaan kemampuan akan ada antara
anak-anak, antara pola-pola, dan di dalam pola.
b. Meskipun
terkait usia, beberapa perbedaan akan tampak antara anak-anak, antara
pola-pola, dan di dalam pola dalam pengujian performa gerak dasar.
Perbedaan antara anak-anak
akan mengingatkan kita pada prinsip individu pada semua pembelajaran.
Urutan perkembangannya dari tahap dini, dasar, dan tahap matang adalah
sama pada sebagian besar anak. Lajunya akan bervariasi, tergantung pada
faktor-faktor lingkungan dan keturunan. Apakah seorang anak mencapai
tahap matang atau tidak terutama tergantung pada instruksi, dorongan,
dan kesempatan untuk praktik. Jika hal ini tidak ada, perbedaan normal
antara anak-anak akan diperbesar.
Perbedaan antara pola-pola akan
terlihat pada semua anak. Pada beberapa uji gerak seorang anak mungkin
berada pada tahap dini, beberapa anak lain berada pada tahap dasar, dan
ada yang berada pada tahap matang. Anak-anak tidak berkembang sama rata
dalam pengembangan kemampuan gerak dasar mereka. Bermain dan pengalaman
disertai instruksi akan berpengaruh besar terhadap laju perkembangan
daya gerak, manipulatif, dan kemampuan stabilitas.
Perbedaan di dalam pola
adalah menarik dan seringkali menjadi fenomena yang penuh tanda tanya.
Di dalam pola yang diberikan, seorang anak mungkin menunjukkan sebuah
kombinasi dari elemen dini, dasar dan elemen matang. Sebagai contoh,
dalam lemparan, gerakan lengan mungkin merupakan tahap dasar di mana
gerakan kaki merupakan tahap matang dan gerak ikutan adalah tahap dini.
Perbedaan pengembangan di dalam pola-pola adalah umum dan biasanya
merupakan hasil dari : (1) ketidak lengkapan dari pemodelan gerak, (2)
kesuksesan awal dari aksi yang tidak sesuai, (3) gagal mendapatkan meski
sudah sekuat tenaga, (4) kesempatan pembelajaran yang tidak sesuai dan
dilarang, atau (5) integrasi sensorimotor yang tidak lengkap. Anak-anak
yang menunjukkan perbedaan ke dalam pola, harus dinilai menggunakan
pendekatan analisis bagian. Ini akan mengijinkan pengamat untuk
menentukan tahap pengembangan tiap-tiap bagian tubuh secara akurat.
Dengan pengetahuan ini, strategi intervensi yang sesuai dapat dipetakan.
Pengajaran
diagnostik dapat lebih dilakukan untuk membantu anak dalam pengembangan
keseimbangan kemampuan gerak dasarnya. Penilaian observasi dari
kemampuan gerak anak akan memungkinkan guru untuk merencanakan
pengalaman dan strategi instruksi yang akan membantu anak menciptakan
pola-pola gerak matang. Sekali kontrol gerak didirikan, pola-pola matang
ini mungkin lebih jauh lagi disaring dalam bentuk produksi kekuatan dan
akurasi dalam fase gerak khusus. Kegagalan mencapai kecakapan dalam
berbagai macam kemampuan gerak dasar akan menghambat pengembangan
keterampilan gerak yang efektif dan efisien yang mungkin diterapkan pada
permainan, olahraga, dan aktivitas dansa yang mencirikan budaya anak.
Stabilitas
adalah aspek pembelajaran gerak yang paling dasar. Stabilitas melalui
dimensi ini yang diperoleh anak dan menjaga titik asal untuk eksplorasi
yang mereka buat. Stabilitas melibatkan kemampuan untuk menjaga hubungan
seseorang terhadap gaya gravitasi. Hal ini benar meskipun asal-usul
penerapan suatu kekuatan mungkin berubah sebagai persyaratan perubahan
situasi, mengakibatkan hubungan general dari bagian-bagian tubuh
terhadap pusat gravitasi menjadi berubah. Pengalman gerak didisain untuk
meningkatkan kemampuan stabilitas anak, memungkinkan mereka untuk
mengembangkan fleksibilitas dalam penyesuaian fostur saat mereka
bergerak dalam berbagai macam cara yang berbeda dan sering kali tidak
biasa yang relatif terhadap pusat gravitasi, garis gravitasi, dan dasar
pendukung.
c. Keseimbangan merupakan aspek pembelajaran gerak yang paling dasar, karena semua geraknya melibatkan element keseimbangan.
Kemampuan
untuk merasakan suatau pergeseran dalam hubungan antara bagian – bagian
tubuh yang mengubah keseimbangan seseorang di perlukan untuk stabilitas
yamg efisien. Kemampuan untuk mengkompensasi perubahan ini secara cepat
dan akurat dengan pergerakan yang sesuai juga penting. Gerak pergantian
ini harus dapat menjaga keseimbangan, tetapi tidak boleh berlebihan.
Gerakan itu harus dibuat hanya dari bagian – bagian tubuh yang
diperlukan dalam keseimbangan. Kemampuan stabilitas anak harus fleksibel
sehingga mereka dapat membuat semua jenis pergerakan dalam kondisi
apapun dan masih tetap dapat menjaga hubungan dasar mereka terhadap gaya
gravitasi.
Harus dicatat disisni bahwa istilah stabilitas yang digunakan didalam teks ini diluar istilah gerak nonlocomotor atau nonmanipulative.
Kategori stabilitas gerak meliputi istilah – istilah ini tetapi lebih
jauh lagi menyiratkan penjagaan kontrol tubuh dalam gerak yang
menempatkan sebuah premi dalam keseimbangan. Semua gerak melibatkan
element stabilitas jika dipandang melalui perspektif keseimbangan. Oleh
karena itu semua aktifitas gaya gerak dan manifulatif merupakan gerak –
gerak stabilitas. Gerak dasar tertentu mungkin terpisah antara satu
dengan lainnya yang membutuhkan keseimbangan terkontrol.
Gerak aksial dan berbagai macam postur keseimbangan statis dan dinamis dipertimbangkan sebagai komponen utama stabilitas. Gerak Aksial atau nonlocomotor, merupakan gerak terarah dari otot saat berada dari posisi statis. Membengkok, memutar, melentur, meregang dan mengayun adalah gerak – gerak aksial. Postur
merupakan posisi tubuh lain yang menempatkan sebuah premium pada
penjagaan keseimbangan saat berada pada posisi keseimbangan statis atau
dinamis. Berdiri, duduk, terbalik, berguling, berhenti, menghindar
dan mendarat, begitu pula berjalan dan keseimbangan satu kaki merupakan
postur keseimbangan statis atau dinamis
C. Kesimpulan
1. Pengembangan kemampuan gerak dasar merupakan dasar bagi pengembangan gerak anak.
2. Berbagai
macam pengalaman gerak memberikan mereka kekayaan informasi yang
mendasari persepsi mereka tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka.
3. Dapat mengidentifikasi fase gerak dasar pada setiap siswa
4. Dapat merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan serta pola gerak dasar yang dimiliki pada setiap siswa
5. Dapat memberikan pembelajaran gerak pada siswa disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia anak/siswa
6. Kemampuan gerak anak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi sarana dan prasarana