Minggu, 28 April 2013

Nutrisi Untuk Atlet

Nutrisi yang tepat merupakan dasar utama bagi penampilan prima seorang atlet pada saat bertanding. Selain itu nutrisi ini dibutuhkan pula pada kerja biologik tubuh, untuk penyediaan energi tubuh pada saat seorang atlet melakukan berbagai aktivitas fisik, misalnya pada saat latihan (training), bertanding dan saat pemulihan, baik setelah latihan maupun setelah bertanding. Nutrisi juga dibutuhkan untuk memperbaiki atau mengganti sel tubuh yang rusak. Banyak pelatih atau atlet yang menganggap bahwa asupan nutrisi pada atlet sama saja dengan yang bukan atlet. Kenyataannya tidak demikian, asupan nutrisi pada atlet disiapkan berdasarkan pengetahuan tentang dominasi energi yang akan digunakan, peran sumber nutrisi tertentu pada proses penyediaan energi. Dalam hal ini termasuk pula tentang pemberian suplemen dan usaha khusus berupa modifikasi yang dilakukan terhadap asupan nutrisi pada waktu tertentu, dalam upaya meningkatkan kinerja atlet.
Karbohidrat
Sumber energi utama pada berbagai tingkat dan jenis aktivitas fisik berasal dari karbohidrat, lemak dan protein yang berfungsi untuk mempertahankan aktivitas fungsional tubuh. Dikenal 2 jenis karbohidrat, yaitu karbohidrat sederhana dan kompleks. Glukosa adalah salah satu karbohidrat sederhana yang dapat digunakan secara langsung sebagai sumber energi oleh sel-sel tubuh, namun bila jumlahnya berlebihan maka dapat dikonversi menjadi cadangan glikogen di hati dan di otot, dan bila masih berlebihan akan disimpan dalam bentuk lemak di jaringan adiposa. Karbohidrat kompleks adalah karbohidrat yang berantai panjang yang merupakan gabungan dari 3 atau lebih molekul glukosa. Selain itu dikenal pula bentuk lain dari karbohidrat yaitu: serat (antara lain selulose) yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan.
Pada manusia yang mempunyai status gizi normal, ditemukan 375-475 g karbohidrat sebagai cadangan energi, kurang lebih 325 g di otot dan 90 – 100 g di hati dalam bentuk glikogen dan hanya 15-20 g beredar di dalam darah. Setiap gram glikogen mengandung 4 kalori energi, dengan demikian 1500 – 2000 kalori dikandung oleh karbohidrat dalam tubuh, dan energi ini cukup sebagai energi untuk lari sejauh 20 mil. Selama berolahraga, glikogen pada otot yang aktif merupakan sumber energi, setelah melalui proses glikogenolisis. Glikogen hati dikonversi menjadi glukosa terlebih dahulu, lalu diangkut oleh darah ke otot yang aktif. Bila jumlah glikogen hati dan otot habis, glukosa dibentuk melalui proses glukoneogenesis dari sumber energi lain seperti protein. Pada proses penyediaan energi tubuh, diperlukan hormon insulin dan glukagon sebagai pengatur keseimbangan kadar glukosa darah. Jumlah glikogen relatif kecil untuk digunakan atlet selama latihan berat atau pada pertandingan dalam waktu yang lama, sehingga perlu dilakukan modifikasi melalui diet. Pada saat puasa 24 jam atau pada diet rendah kalori, jumlah cadangan kalori tubuh akan sangat berkurang. Salah satu cara untuk mempertahankan kadar cadangan karbohidrat tubuh adalah dengan mengkonsumsi diet karbohidrat tinggi selama beberapa hari (carbohydrates loading).
Lemak
Lemak adalah sumber energi utama pada aktivitas fisik yang lama seperti pada lari jarak jauh dan maraton. Dikenal beberapa jenis lemak yaitu: lemak sederhana misalnya trigliserida; lemak kompleks yaitu kombinasi lemak sederhana dengan molekul lain seperti fosfor disebut sebagai fosfolipid. HDL (high density lipoprotein) dan LDL (low density lipiprotein) adalah jenis lemak yang berkombinasi dengan protein yang disebut sebagai lipoprotein. Bila mengandung sedikit lemak dan banyak protein disebut HDL dan bila mengandung banyak lemak dan kurang protein disebut LDL jumlah dan rasio HDL dan LDL dapat menunjukkan risiko penyakit jantung koroner seseorang. Olahraga aerobik yang teratur dapat meningkatkan kadar HDL dan mempengaruhi rasio HDL dan LDL. Kolesterol dibutuhkan oleh tubuh untuk membangun membran sel, sintesis vitamin D, hormon adrenal, estrogen dan hormon lain, serta diperlukan pula untuk pembentukan garam empedu. Lemak tumbuhan berkontribusi sebesar 34% pada asupan lemak seharihari, sedangkan lemak hewan sebesar 66%. Lemak merupakan sumber energi yang ideal untuk sel tubuh sebab setiap molekul mengandung energi yang besar, mudah diangkut dan diubah bila diperlukan. Satu gram lemak mengandung 9 kkal, 2 kali dari jumlah energi yang dikandung oleh karbohidrat dan protein. Jumlah energi yang disimpan di dalam molekul lemak pada berat badan ratarata 70 kg, adalah 94 500 kkal (10.500 g lemak tubuh x 9 kkal). Oleh karena itu tepat bila lemak digunakan sebagai sumber energi untuk aktivitas fisik yang lama.
Selain itu lemak dapat memproteksi organ-organ tubuh seperti jantung, hati, limpa, ginjal dll. Lemak di bawah kulit berfungsi untuk melindungi tubuh dari dingin berlebihan, dan lemak yang berlebihan akan bersifat sebagai pengatur suhu tubuh, terutama pada olahraga yang lama, ketika produksi panas tubuh meningkat hingga 20 kali di atas suhu normal. Lemak adalah bahan makanan yang paling lama dicerna di lambung sehingga akan memperlambat rasa lapar. Energi dari lemak terutama berasal dari trigliserida di jaringan adiposa, dan dihantarkan oleh sistem sirkulasi ke jaringan otot dalam bentuk asam lemak bebas (FFA) yang akan berikatan dengan albumin darah. Dapat pula berasal dari trigliserida yang terdapat di sel otot itu sendiri. Selama berolahraga sedang seperti jogging dengan kecepatan 10 menit per mil, sumber energi yang berasal dari bahan karbohidrat dan lemak seimbang. Bila olahraga berlangsung lebih lama, sekitar 1 jam atau lebih, tubuh akan kehabisan karbohidrat, dan penggunaan lemak akan meningkat secara bertahap. Pada olahraga maraton misalnya lemak mengsuplai hampir 80% kebutuhan energi tubuh. Pada keadaan ini produksi hormon insulin menurun, sedangkan glukagon meningkat sehingga akan menurunkan metabolisme glukosa dan meningkatkan pemecahan lemak.

Protein
Struktur kimia protein kurang lebih sama dengan karbohidrat dan lemak, mengandung karbon, oksigen dan hidrogen. Namun protein juga mengandung zat lain yaitu nitrogen, sulfur, fosfor dan besi. Molekul dasar dari protein adalah asam amino, dan asam amino dapat bergabung satu dengan yang lain melalui ikatan peptida. Gabungan 2 asam amino disebut sebagai dipeptida dan bila tiga disebut sebagai tripeptida. Tubuh manusia memerlukan 20 jenis asam amino yang berbeda, ada 9 asam amino yang tidak dapat disintesis dalam jumlah yang cukup oleh tubuh, disebut sebagai asam amino esensial, dan terdapat 12 yang dapat dibuat oleh tubuh disebut asam amino non esensial. Protein dapat dioksidasi untuk selanjutnya digunakan sebagai sumber energi. Protein merupakan senyawa utama untuk sintesis komponen seluler dalam pembentukan jaringan baru. Protein yang dikandung oleh sel tidak selalu tetap jumlahnya. Jumlah protein pada otot skelet adalah 65% dari jumlah protein tubuh dan jumlah ini dapat meningkat banyak dengan latihan beban (resistance training). Selain diperlukan untuk membesarkan otot, protein diperlukan pula untuk pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. Fungsi bufer ini penting selama atlet melakukan olahraga berat, yaitu saat tubuh atlet menghasilkan produk metabolisme asam dalam jumlah besar. Protein yang ada di dalam darah seperti globulin dan albumin akan mempertahankan tekanan osmotik dalam sirkulasi darah. Hal ini akan mempertahankan cairan darah atau serum agar tetap berada di dalam pembuluh darah, tidak keluar ke jaringan sekitarnya oleh tekanan darah arteri yang tinggi. Namun konsumsi protein dalam jumlah besar tidak berarti akan langsung membesarkan otot, bahkan hal ini berbahaya sebab kelebihan nutrien ini akan diubah menjadi lemak tubuh. Bila kelebihan berlangsung lama akan menyebabkan gangguan pada fungsi ginjal dan hati. Banyak atlet angkat besi dan atlet power lainnya mengkonsumsi cairan, larutan, pil atau bubuk protein sebagai suplemen. Namun dari beberapa penelitian tidak ditemukan manfaat asupan protein yang berlebihan melebihi Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang sudah ditetapkan, bahkan dapat menyebabkan timbulnya berbagai keluhan seperti diare dan kehilangan kalsium berlebihan. AKG protein bagi atlet telah ditetapkan oleh para ahli lebih tinggi dari orang sedentari, dan dianggap cukup aman untuk menyediakan energi bagi atlet selama berolahraga dan untuk resintesis protein setelah berolahraga.
Pada saat tubuh menggunakan protein sebagai sumber energi, akan ditemukan ekskresi nitrogen yang meningkat bersama keringat, dan keadaan ini ditemukan bila seseorang berolahraga hingga tingkat saat cadangan glikogen habis. Disini jelas pentingnya peran karbohidrat sebelum protein digunakan sebagai sumber energi (protein sparer). Hal ini merupakan faktor penting untuk diperhatikan pada atlet yang melakukan olahraga endurans lama dan atau pada atlet yang sering melakukan latihan berat saat jumlah cadangan glikogen sangat berkurang. Atlet yang melakukan latihan lama dan berat akan menggunakan protein sebagai sumber energi dan berarti akan menekan sintesis protein. Oleh karena itu atlet yang melakukan latihan beban untuk membesarkan otot akan menghindari latihan endurans yang lama. Tidak semua protein dalam tubuh tersedia sebagai sumber energi, namun protein otot sangat mudah dikonversi pada saat dibutuhkan, khususnya pada olahraga lama. Asam amino di otot akan diubah menjadi alanin kemudian diangkut dari otot yang aktif ke hati untuk dideaminasi. Energi yang berasal dari siklus alanin-glukosa akan mensuplai 10 – 15% energi total yang diperlukan selama olahraga/latihan atau 60% berasal dari glukosa hati.
Nutrisi pada atlet atau mereka yang aktif, seyogyanya tetap mengikuti anjuran yang baku sesuai umur, jenis kelamin, berat dan lamanya aktivitas fisik yang dilakukan. Namun pada pemberian makanan, tetap perlu diperhatikan fungsi masing-masing bahan makanan bagi jenis olahraga atlet, apakah jenis olahraganya endurans atau latihan beban dan apakah untuk aktivitas fisik yang berat atau lama dan berkepanjangan. Pemberian suplemen tidak perlu dilakukan pada atlet yang dapat mengkonsumsi makanan seimbang. Kondisi hidrasi atlet merupakan hal yang tidak boleh diabaikan, sebab bila terjadi kekurangan cairan tubuh maka akan sangat mengganggu kinerja atlet. Ahli gizi dan pelatih perlu menitikberatkan perhatian pada pemberian nutrisi yang tepat selama masa latihan, saat kompetisi dan pada waktu pemulihan.

Analisis Tujuan, Bahan Latihan, dan Metode Latihan Olahraga

A. Pendahuluan
Latihan adalah suatu proses yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang dengan semakin hari menambah jumlah beban latihan. Latihan kondisi fisik memegang perenan sangat penting dalam program latihan atlet. Istilah latihan kondisi fisik, mengacu kepada suatu program latihan yang dilakukan secara sistematis, berencana dan progresif. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan fungsional dari seluruh system tubuh, dengan demikian prestasi atlet akan semakin meningkat.
Faktor utama dalam latihan adalah dilakukan secara berulang-ulang dan peningkatan beban dilakukan berulang-ulang kekuatan dan daya tahan otot. Para ahli mengatakan bahwa latihan adalah suatu proses yang direncanakan untuk mengmbangkan keterampilan olahraga yang kompleks dengan memakai isi latihan, metode latihan dan tindakan-tindakan organisasional yang sesuai dengan meksud dan tujuan-tujuan.
B. Pembahasan
1. Analisis Tujuan Latihan
Rencana program latihan merupakan salah satu strategi usaha untuk mencapai tujuan prestasi atlet secara optimal dimasa yang akan datang. Tujuan jangka panjang, jangka menengah, maupun jangka pendek rencana latihan merupakan mata rantai tujuan akhir, tujuan antara, dan tujuan oprasional yang obyektif dan terukur. Rencana program latihan harus mempertimbangkan faktor-faktor penentu untuk mencapai tujuan latihan, faktor-faktor itu antara lain : bakat atlet ; kemampuan atlet saat itu; umur atlet; umur latihan; sarana dan prasarana; dana; lingkungan atlet; tenaga pelatih dan waktu yang ada.
Tujuan latihan umumnya dibagi menjadi tiga yaitu
a) Tujuan jangka panjang (5 tahun- 12 tahun). Tujuan jangka panjang merupakan tujuan akhir untuk cita-cita prestasi prima.
b) Tujuan jangka menengah (2 tahun-4 tahun). Tujuan jangka menengah merupakan pelaksanaan langsung jangka panjang.
c) Tujuan jangka pendek (1 tahun kebawah). Tujuan jangka pendek merupakan pelaksanaan oprasional rencana jangka menengah.
Manfaat tujuan latihan adalah :
1) Sebagai motivasi agar atlet berusaha keras untuk mencapai cita-cita juara
2) Sebagai pedoman arah kegiatan-kegiatan latihan dan usaha-usaha untuk mencapai tujuan latihan
3) Sebagai cambuk terhadapa atlet agar dapat mencapai prestasi yang lebih tinggi dari prestasi sebelumnya
4) Sebagai alat untuk pembentukan sikap percaya diri, kemandirian tinggi, pendewasaan pikiran, daya juang yang tinggi.
5) Sebagai tempat meningkatkan kemampuan mawas diri (introspeksi) terhadap kondisi luar maupun kondisi dalam pribadi atlet dalam rangka mencapai cita-cita juara.
2. Bahan Latihan
Bahan latihan adalah meliputi jenis latihan, bentuk latihan, volume latihan, dan intensitas latihan.
a) Jenis latihan
Yang merupkan jenis latihan adalah :
(1) Latihan Fisik
Latihan fisik adalah suatu proses yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi fisik. Latihan fisik terdiri dari beberapa komponen yaitu ; daya tahan, stamina, kelentukan/kelenturan, kekuatan, power, daya tahan otot. Untuk meningkatkan prestasi harus mengikuti prinsip-prinsip latihan agar mencapai prestasi yang diingikan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain ;
- Prinsip beban lebih (over load) adalah prinsip latihan dengan penekanan pada pembebanan yang lebih berat, dari pada yang mampu dilakukan atlet. Dalam prinsip beban lebih ada beberapa hal yang harus di perhatikan yaitu : istirahat yang cukup, latihan berat diselingi dengan yang ringan, rencana latihan harus disusun dalam siklus, dan sebaiknya menganut “system tangga”.
- Prinsip multilateral adalah sebaiknya diterapkan pada atlet-atlet usia muda. Pada permulaan latihan mereka harus dilibatkan dengan beragam kegiatan sehingga dengan demikian mereka dapat memiliki dasar-dasar yang lebih kokoh untuk keterampilan spesialisasinya kelak.
- Prinsip reversibility mengatakan, bahwa apabila kita berhenti berlatih, tubuh kita akan kembali kekeadaan semula atau kondisinya tidak akan meningkat.
- Prinsip spesifik mengatakan, bahwa manfaat maksimal yang dapat diperoleh melalui rangsangan latihan hanya akan terjadi, apabila rangsangan tersebut sama atau menyerupai gerakan-gerakan yang dilakukan olahraga tersebut.
- Densitas latihan (kepekatan, kepadatan, kekeraban) adalah fekuensi atau kekerapan atlet dalam melakukan suatu rangkaian rangsangan persatuan waktu.
- Volume latihan ialah kuantitas beban latihan atau banyaknya materi latihan yang dinyatakan dalam totol waktu berlangsungnya latihan, jarak yang ditempuh atau beban yang harus diangkat persatuan waktu, dan jumlah repetisi dalam melakukan suatu latihan.
- Prinsip superkonvensasi adalahmengacu kepada dampak latihan dan regenerasi organisme tubuh kita, yang menjadi dasar biologis untuk persipan fisik dan mental dalam menghadapi latihan atau pertandingan.
(2) Latihan tehnik
Pada masa persiapan umum dalam latihan teknik bahan yang dilakukan adalah melakukan teknik-teknik dasar olahraga tersebut, misalnya dalam sepak bola melakukan dribbling, passing.
(3) Latihan taktik
Bersamaan dengan latihan fisik, atlet cabang permainan harus pula berlatih untuk teknik dan taktik. Dalam latihan taktik ini merupakan penyempurnaan taktik-taktik apa yang akan di lakukan dalam pertandingan.
(4) Latihan mental
Dalam latihan mental dapat meliputi penanaman masalah disiplin, semangat juang, percaya diri dan kejujuran.
2) Bentuk latihan
Bentuk latihan adalah materi latihan yang harus dilakukan atlet pada satu sesi lathan misalnya untuk latihan fisik umum bentuk latihannya adalah :
- Interval sprint
- Fartlek
- Cross country
- Dan lain-lain
3) Voume latihan
Volume latihan adalah jumlah aktifitas yang dilakukan dalam latihan, semakin tinggi prestasi atlet semakin banyak pula jumlah volume latihan yang harus dilakukannya.
4) Intensitas latihan
Intensitas latihan adalah jumlah kerja yang dilakukan dalam satu unit waktu tertentu, semakin banyak kerja yang dilakukan dalam suatu unit tertentu, lebih tinggi intensitas kerjanya. Apabila atlet berlatih melalui suatu program latihan yang intensif, yaitu program latihan yang secara progresif menambah program kerja, jumlah ulangan gerakan (repetisi), serta kadar itensitas dari repetisi tersebut.
3. Metode Latihan
Metode latihan adalah suatu cara yang sistematis dan terencana yang fungsinya sebagai alat menyajikan kegiatan olahraga yang bertujuan untuk suatu keterampilan gerak atau prestasi olahraga. Contoh-contoh metode latihan antara lain :
a. Daya tahan : Metode latihan yang dilakuan adalah fartlek dan interval training
b. Kelentukan dan kelenturan : metode yang dilakukan adalah peregangan dinamis, peregangan statis, peregangan pasif, peregangan PNF (proprioceptive neuromuscular facilitation)
c. Kelincahan : metode yang dilakukan adalah lari bolah-balik, lari zig zag, haling rintang, hexagonal dan lain-lain
d. Kekuatan, power, dan daya tahan otot : metode yang dilakukan adalah latihan-latihan tahanan (resistance exercise) dimana kita harus mengangkat, mendorong, atau menarik suatu beban.
e. Kecepatan : metode yang dilakukan adalah interval sprint, lari akselerasi, uphill, downhill.

Kemampuan Gerak Dasar

A.       Pendahuluan

Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup. Bahkan manusia masih berada dalam kandungan sudah melakukan gerakkan yang merupakan fase gerak reflek.
Dalam kehidupan seorang anak saat mencapai usia tahun kedua, adanya tanda-tanda perubahan yang dapat diamati bagaimana cara mereka berhubungan dengan sekitarnya, dan di penghujung  usia yang kedua, mereka telah menguasai kemampuan gerak dasar yang dikembangkan sepanjang masa kanak-kanak. Bentuk kemampuan gerak ini adalah dasar yang dikembangkan tiap-tiap anak atau pola-pola gerak dasar pada masa kanak-kanak dini dan keterampilan pergerakan khusus pada masa kanak-kanak setelahnya serta masa remaja. Anak-anak tidak lagi dihentikan oleh ketidakmampuan untuk bergerak bebas atau dibatasi oleh tempat tidur mereka atau tempat bermain mereka. Sekarang mereka mampu menyelidiki potensi pergerakan tubuh mereka dengan bergerak antar ruang (daya gerak). Mereka tidak lagi tak berdaya melawan gaya gravitasi tetapi memperoleh peningkatan kontrol melalui kemampuannya terhadap gravitasi (stabilitas). Mereka tidak harus lagi melakukan raihan-raihan kasar yang tidak efektif, menggenggam, melepas benda-benda tertentu pada masa kanak-kanaknya tetapi dengan cepat mengembangkan kemampuannya untuk mengontrol dan melakukan kontak dengan objek secara akurat dalam lingkungannya (memanipulasi).

Anak-anak balita terlibat dengan proses pengembangan dan penyaringan kemampuan gerak dasar pada berbagai macam stabilitas/keseimbangan, daya gerak, dan pergerakan manipulatif. Artinya mereka harus terlibat dalam serangkaian pengalaman-pengalaman yang terkoordinasi dan berkembang untuk meningkatkan pemahaman tubuh dan potensinya untuk bergerak. Pengembangan pola gerak tidak hanya diperhatikan secara khusus pada pengembangan keterampilan tingkat tinggi dari sejumlah situasi pergerakan tertentu, tetapi juga pada pengembangan tingkat kecakapan (profisiensi) dan mekanik tubuh efisien yang dapat diterima dalam berbagai macam situasi pergerakan. Suatu gerak dasar melibatkan elemen dasar dari pergerakan tertentu saja. Gerak dasar ini tidak mencakup gaya-gaya individu atau penampilan unik personal. Gerak dasar juga tidak menekankan pada variasi-variasi gerak dasar yang masuk ke dalam keterampilan kompleks seperti lay-up shot dalam bola basket atau latihan lantai rutin dalam olahraga senam. Tiap-tiap pola gerak pertama kali harus terbebas antara satu gerak dengan lainnya, dan baru dihubungkan dengan gerak lainnya dalam berbagai macam kombinasi. Pergerakan-pergerakan dari daya gerak berlari, melompat dan melenting, atau pergerakan-pergerakan manipulatif dari melempar, menangkap, menendang, dan mengait merupakan contoh-contoh kemampuan gerak dasar. Pergerakan-pergerakan ini lalu dikombinasikan dan ditingkatkan dalam berbagai macam cara .

Pengembangan kemampuan gerak dasar merupakan dasar bagi pengembangan gerak anak.
1.      Menurut Johnson (1962), menggunakan sejumlah contoh anak laki-laki dan wanita dari kelas 1 sampai 6, ditemukan bahwa rata-rata angka pada item variasi performa gerak menunjukkan tren naik definit hingga kelas lima.
2.      Menurut Cratty dan Martin (1969) menyajikan urutan keterkaitan usia terhadap pencapaian dari berbagai macam daya gerak, manipulatif dan kemampuan perseptual dari 365 anak yang berusia 4 hingga 12 tahun.
3.      Menurut Williams’s (1970) rangkuman kemampuan gerak anak antara 3 – 6 tahun mengungkapkan bentuk pergerakan lebih lanjut seiring peningkatan usia.
4.      Menurut Sinclair (1973) mempelajari pengembangan gerak anak berusia 2 – 6 tahun. Hasil analisis film panjang dari 25 uji gerak selama interval 6 bulan memberikan asumsi dasar bahwa gerak adalah sebuah proses pengembangan selama awal masa kanak-kanak

B.      Pembahasan
1.     Anak-anak memiliki potensi pengembangan untuk memasuki usia matang dari sebagian besar keterampilan gerak dasar pada usia 6 tahun.

Studi pengembangan gerak normatif ini menarik dan informatif berisikan kuantitas dan hasil gerak yang mereka sebut “berapa jauh”, “berapa cepat”, “berapa banyak”. Hasilnya, sejumlah investigator,  untuk menganalisis aspek intraskill dari berbagai macam pola-pola gerak dasar, mulai menggumpulkan data untuk membawa menuju tahap konsep pengembangan gerak sepanjang awal masa kanak-kanak, sebagai berikut :
1)        Menurut (Halverson dan Roberton, 1966, 1979, Seefeldt, 1972, Wild, 1938). Seefeldt dan Haubenstricker (1976) dan beberapa lainnya melakukan penyelidikan penting ke dalam urutan intraskill dari berbagai macam uji-uji gerak dasar. Hasil dari investigasi ini menghasilkan 3 metode tabel populer tahap klasifikasi anak dalam pengaturan observasi aktual.
2)      Menurut McClenaghan dan Gallahue (1978b), dan Seefelt dan Haubenstricker (1976) telah sukses digunakan dalam penilaian observasi pada anak-anak. Metode Roberton memperluas tahap teori pada analisis komponen terpisah gerak di dalam pola yang diberikan dan biasanya disebut dengan pendekatan analisis bagian. Metode Seefeldt memberikan skor tahap klasifikasi keseluruhan (tahap1 sampai tahap 5) dan disebut dengan pendekatan konfigurasi tubuh total.
3)        Menurut Gallahue (1996) baru-baru ini memperluas dan merevisi metode tahap-tahap pengidentifikasian McClenaghan-Gallahue (1978) di dalam fase gerak dasar. Dalam buku Developmental Physical Education for Today’s Children (1996) ia menawarkan sebuah sistem praktis, mudah digunakan, dan terpercaya untuk mengklasifikasikan individu pada tahap-tahap dini, dasar, matang, atau tahap terampil olahraga, bersama dengan berbagai macam pengalaman gerak yang sesuai untuk dikembangkan untuk tiap-tiap tahap dalam 23 keterampilan gerak dasar. Metode ini mendorong penggunaan baik pendekatan secara konfigurasi tubuh total maupun pendekatan analisis bagian untuk menilai pengembangan pola gerak dasar.

2.     Beberapa teknik efektif telah diusulkan untuk penilaian observasi pola-pola gerak dasar.

Tidak semua pola gerak cocok dengan kemajuan tiga tahap yang ada. Aspek-aspek pengembangan dari beberapa gerak mungkin lebih lengkap digambarkan ke dalam empat, lima, atau bahkan delapan urutan tahap, tergantung pada pola spesifik dan tingkat kepuasan pengamat. Pendekatan tiga tahap digunakan pada bagian berikut karena pendekatan ini akurat dan cukup pas dalam urutan pengambangan pada banyak pola-pola gerak dasar dan memberikan dasar untuk alat penilaian observasi yang terpercaya dan mudah digunakan, diantaranya sebagai berikut :

1)      Urutan Kemunculan Kemampuan Keseimbangan yang Dipilih
Pola Gerak
Kemampuan yang Dipilih

Pendekatan Usia Subjek
Keseimbangan Dinamis

Keseimbangan dinamis mencakup
menjaga keseimbangan seseorang
seiring pergeseran pusat gravitas





·   Berjalan lurus 1 inch (2,5 cm)          
·   Berjalan melingkar 1 inch (2,5 cm)
·   Berdiri pada balok seimbang yang rendah
·   Berjalan pada balok selebar 4 inch (10 cm) jarak dekat
·   Berjalan pada balok yang sama, dengan kaki bergantian
·   Berjalan pada balok 2 atau 3 inch (5,1 atau 7,6 cm)
·   Melakukan guling depan tahap dasar
·   Melakukan guling depan tahap matang                      
3 tahun
4 tahun
2 tahun

3 tahun

3–4 tahun

4 tahun
3–4 tahun
6–7 tahun

Keseimbangan Statis
Keseimbangan statis mencakup menjaga keseimbangan seseorang ketika pusat gravitasi tetap      
·   Bangunkan untuk posisi berdiri
·   Berdiri tanpa pegangan tangan
·   Berdiri sendiri
·   Keseimbangan di atas satu kaki 3 – 5 detik
·   Dukung tubuh untuk mencapai posisi dasar terbalik 3 titik
10 bulan
11 bulan
12 bulan
5 tahun

6 tahun
Pergerakan Aksial
Pergerakan aksial adalah postur statis yang mencakup melentur, meregang, membengkok, memutar dan sejenisnya
Kemampuan pergerakan aksial dimulai untuk
pengembangan dini masa kanak-kanak dan makin tersaring pada suatu titik di mana mereka mulai memunculkan pola-pola manipulatif seperti                melempar, menangkap, menendang, memukul,               mengait, dan aktivitas lain


  *Anak-anak memiliki “potensi” pengembangan untuk memasuki tahap matang. Pencapaian aktual tergantung pada faktor-faktor termasuk tugas, individu, dan lingkungan


2)      Urutan Kemunculan Kemampuan Daya Gerak yang Dipilih
Pola Gerak
Kemampuan yang Dipilih

Pendekatan Usia Subjek
Berjalan       
Berjalan mencakup menempatkan
satu kaki di depan kaki satunya
saat menjaga kontak dengan
permukaan              
·   Berjalan tegak lurus tanpa bantuan
·   Berjalan menyamping
·   Berjalan mundur              
·   Menaiki anak tangga dengan bantuan
·   Menaiki anak tangga sendiri – mengikuti langkah
·   Menuruni anak tangga sendiri – mengikuti langkah
    13 bulan
·              16 bulan
·              17 bulan
·              20 bulan
·              24 bulan
25 bulan
Berlari
Berlari mencakup periode singkat
kontak dengan permukaan
·   Jalan cepat (menjaga kontak)
·   Benar-benar lari (fase tanpa dukungan)
·   Lari efisien
·   Kecepatan lari meningkat, lari tahap matang                              
18 bulan
2–3 tahun                          4–5 tahun
5 tahun

Melompat
Melompat terdiri dari tiga bentuk :
  (1) melompat mencapai jarak
  (2) melompat mencapai tinggi, dan
  (3) melompat dari suatu ketinggian          melompat mencakup lepas landas     dengan 1 atau 2 kaki dan mendarat      dengan dua kaki
·   Turun dari objek yang rendah
·   Melompat ke bawah dari objek dengan satu kaki         
·   Melompat dari lantai dengan kedua kaki
·   Melompat mencapai jarak (sekitar 3 ft / 1 m)
·   Melompat mencapai tinggi (sekitar 1 ft / 30 cm)
·   Pola melompat tahap matang            

18 bulan
2 tahun
28 bulan
5 tahun
5 tahun
6 tahun
Meloncat
Meloncat mencakup lepas landas   dengan satu kaki dan mendarat   dengan kaki yang sama                                                             
· Meloncat sampai 3 kali pada kaki yang sama
· Meloncat 4 – 6 kali pada kaki yang sama
· Meloncat 8 – 10 kali pada kaki yang sama
· Meloncat sejarak 50 feet (15 m) sekitar 11 detik
· Meloncat dengan terampil dengan perubahan irama,
   pola matang

3 tahun
4 tahun
5 tahun
5 tahun
6 tahun

Mencongklang
Congklang adalah kombinasi jalan dan melompat dengan kaki yang   sama                
· Dasar tetapi congklang yang tidak efektif
· Mencongklang dengan terampil, pola matang
4 tahun
6 tahun
4 tahun
Lompat Tali
Lompat tali mengkombinasikan langkah dan loncatan dengan   suatu perubahan irama
· Loncat tali dengan satu kaki 
· Lompat tali dengan terampil (sekitar 20%)           
· Lompat tali dengan terampil semuanya*

4 tahun
5 tahun
6tahun   



* Anak-anak memiliki “potensi” pengembangan untuk memasuki tahap matang. Pencapaian aktual tergantung pada faktor-faktor termasuk tugas, individu, dan lingkunngan

3.     Kondisi Gerak
Fase pengembangan gerak dasar telah dipelajari secara luas beberapa tahun belakangan ini. Sebagian besar sepakat bahwa fase ini mengikutsertakan sebuah perkembangan yang dapat dibagi menjadi beberapa tahap. Kemajuan anak normal secara kognitif dan fisik dari satu tahap ke tahap lainnya dalam cara yang berurutan dipengaruhi oleh kematangan maupun pengalaman. Anak-anak tidak dapat mempercayakan begitu saja pada kematangan untuk mencapai tahap matang dalam kemampuan gerak dasarnya. Kondisi lingkungan yang mencakup kesempatan melakukan praktik, memberikan dorongan, dan instruksi adalah penting untuk pengembangan pola matang dari gerak dasar, hal ini sesuai dengan temuan :
1)      Miller (1978) menyelidiki fasilitas dari pembelajaran keterampilan gerak dasar anak usia 3 – 5 tahun. Ia temukan bahwa program instruksi dapat meningkatkan pengembangan pola gerak dasar melalui tingkatan yang dicapai daripada hanya sekedar mengandalkan kematangan. Ia juga menemukan bahwa program terinstruksi dalam pengembangan keterampilan lebih efektif daripada program bermain gratis dan karenanya orang tua yang bekerja melalui arahan-arahan dari instruktur spesialis dapat sama efektifnya dengan guru pendidikan jasmani itu sendiri dalam pengembangan keterampilan gerak dasar.
2)      Luedke (1980) menemukan hasil yang serupa, dengan memanfatkan dua metode instruksi melempar yang berbeda pada tahap matang dengan empat tingkatan anak laki-laki dan wanita. Kedua kelompok instruksi tersebut menjadi lebih pandai dalam bentuk dan performa daripada kelompok yang tidak diberikan instruksi. Interaksi lingkungan dan yang bergerak, serta tujuan pengujian dan yang bergerak, memiliki pengaruh yang dramatis terhadap pengembangan kematangan dari pengujian gerak dasar yang diobservasi.
a.     Kemajuan tahap matang dari pola gerak dasar tergantung pada berbagai macam faktor-faktor yang dialami, termasuk kesempatan melakukan praktik, memberikan dorongan, dan instruksi dalam suatu lingkungan yang kondusif untuk dipelajari.

Kondisi-kondisi alami termasuk lingkungan itu sendiri – seperti suhu, pencahayaan, luas permukaan, dan gravitasi – dapat mempengaruhi aspek kuantitatif dari uji gerak begitu juga aspek kualitatif. Begitu pula, kondisi buatan seperti ukuran, bentuk, warna, dan tekstur dari suatu objek dapat mempengaruhi performa secara dramatis hal ini sesuai dengan temuan :
a.)    (Payne dan Isaacs, 1995). Lebih jauh lagi, kondisi-kondisi seperti kecepatan objek, jalur, dan beratnya dapat mempengaruhi suksesnya intersepsi. Tujuan dari uji itu sendiri berpengaruh penting bagi status pengujian gerak dasar pengembangan yang diobservasi. Jika, sebagai contoh, difokuskan pada akurasi melempar, mungkin pada pelemparan permainan darts, maka itu masuk akal jika diasumsikan bahwa pola geraknya akan berbeda jika dibanding tujuan pengujiannya untuk melempar mencapai jarak tertentu.
b.)    Langendorfer (1988) mengobservasi dua kelompok subjek (anak-anak dan dewasa) menampilkan pola melempar dengan dua kondisi tujuan berbeda (kekuatan dan akurasi). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pola gerak tidaklah mutlak tergantung pada keadaan lingkungan. Beberapa individu dapat mengakomodasi gerak mereka untuk menggeser mengatasi hambatan lingkungan, tetapi beberapa lainnya tidak dapat. Individu yang terbatas kemampuannya untuk meningkatkan kecepatan lemparannya (akibat sistem mekanik yang tidak efisien atau karena kurangnya kekuatan) hanya akan dapat membuat penyesuaian yang sedikit saat berubah dari uji akurasi lemparan menuju ke uji jarak lemparan.

Mata rantai antara yang berpindah, kondisi lingkungan, dan kebutuhan akan pengujian itu sendiri tidak dapat dimengerti secara penuh. Menarik untuk dicatat bahwa banyak dari gambaran pengembangan dari pola-pola gerak dasar yang mengikuti dibuat secara laboratorium, mereka menghipotesis urutan pengembangan yang merupakan hasil riset dalam pengaturan buatan yang tidak serupa dengan kenyataan pergerakan anak. Hanya sedikit pengetahuan, tentang perubahan konteks lingkungan dan pengaruhnya pada status pengembangan gerak anak yang diobservasi. Seiring perubahan metode yang kita gunakan menjadi metode analisis gerak anak yang memakai pengaturan yang lebih alami kita mungkin akan dapatkan tahap pengembangan hipotesis ini menjadi sedikit banyak berbeda. Titik ini diutarakan oleh Roberton (1987), yang menunjukkan bahwa para peneliti telah begitu peduli dengan perubahan gambaran pada karakteristik gerak para partisipan penelitian dimana mereka seringkali gagal mempertimbangkan pengaruh kuat dari elemen-elemen lainnya (seperti kondisi lingkungan, dan tujuan pengujian) dalam menghasilkan status pengembangan pola gerak dasar yang diobservasi itu sendiri.

Ketika mengobservasi dan menganalisis kemampuan gerak dasar anak, akan segera tampak bahwa ada berbagai macam tahap pengembangan untuk tiap-tiap pola gerak. Akan menjadi jelas pula bahwa perbedaan kemampuan akan ada antara anak-anak, antara pola-pola, dan di dalam pola.

b.     Meskipun terkait usia, beberapa perbedaan akan tampak antara anak-anak, antara pola-pola, dan di dalam pola dalam pengujian performa gerak dasar.

Perbedaan antara anak-anak akan mengingatkan kita pada prinsip individu pada semua pembelajaran. Urutan perkembangannya dari tahap dini, dasar, dan tahap matang adalah sama pada sebagian besar anak. Lajunya akan bervariasi, tergantung pada faktor-faktor lingkungan dan keturunan. Apakah seorang anak mencapai tahap matang atau tidak terutama tergantung pada instruksi, dorongan, dan kesempatan untuk praktik. Jika hal ini tidak ada, perbedaan normal antara anak-anak akan diperbesar.

Perbedaan antara pola-pola akan terlihat pada semua anak. Pada beberapa uji gerak seorang anak mungkin berada pada tahap dini, beberapa anak lain berada pada tahap dasar, dan ada yang berada pada tahap matang. Anak-anak tidak berkembang sama rata dalam pengembangan kemampuan gerak dasar mereka. Bermain dan pengalaman disertai instruksi akan berpengaruh besar terhadap laju perkembangan daya gerak, manipulatif, dan kemampuan stabilitas.
Perbedaan di dalam pola adalah menarik dan seringkali menjadi fenomena yang penuh tanda tanya. Di dalam pola yang diberikan, seorang anak mungkin menunjukkan sebuah kombinasi dari elemen dini, dasar dan elemen matang. Sebagai contoh, dalam lemparan, gerakan lengan mungkin merupakan tahap dasar di mana gerakan kaki merupakan tahap matang dan gerak ikutan adalah tahap dini. Perbedaan pengembangan di dalam pola-pola adalah umum dan biasanya merupakan hasil dari : (1) ketidak lengkapan dari pemodelan gerak, (2) kesuksesan awal dari aksi yang tidak sesuai, (3) gagal mendapatkan meski sudah sekuat tenaga, (4) kesempatan pembelajaran yang tidak sesuai dan dilarang, atau (5) integrasi sensorimotor yang tidak lengkap. Anak-anak yang menunjukkan perbedaan ke dalam pola, harus dinilai menggunakan pendekatan analisis bagian. Ini akan mengijinkan pengamat untuk menentukan tahap pengembangan tiap-tiap bagian tubuh secara akurat. Dengan pengetahuan ini, strategi intervensi yang sesuai dapat dipetakan.

Pengajaran diagnostik dapat lebih dilakukan untuk membantu anak dalam pengembangan keseimbangan kemampuan gerak dasarnya. Penilaian observasi dari kemampuan gerak anak akan memungkinkan guru untuk merencanakan pengalaman dan strategi instruksi yang akan membantu anak menciptakan pola-pola gerak matang. Sekali kontrol gerak didirikan, pola-pola matang ini mungkin lebih jauh lagi disaring dalam bentuk produksi kekuatan dan akurasi dalam fase gerak khusus. Kegagalan mencapai kecakapan dalam berbagai macam kemampuan gerak dasar akan menghambat pengembangan keterampilan gerak yang efektif dan efisien yang mungkin diterapkan pada permainan, olahraga, dan aktivitas dansa yang mencirikan budaya anak.

Stabilitas adalah aspek pembelajaran gerak yang paling dasar. Stabilitas melalui dimensi ini yang diperoleh anak dan menjaga titik asal untuk eksplorasi yang mereka buat. Stabilitas melibatkan kemampuan untuk menjaga hubungan seseorang terhadap gaya gravitasi. Hal ini benar meskipun asal-usul penerapan suatu kekuatan mungkin berubah sebagai persyaratan perubahan situasi, mengakibatkan hubungan general dari bagian-bagian tubuh terhadap pusat gravitasi menjadi berubah. Pengalman gerak didisain untuk meningkatkan kemampuan stabilitas anak, memungkinkan mereka untuk mengembangkan fleksibilitas dalam penyesuaian fostur saat mereka bergerak dalam berbagai macam cara yang berbeda dan sering kali tidak biasa yang relatif terhadap pusat gravitasi, garis gravitasi, dan dasar pendukung.


c.      Keseimbangan merupakan aspek pembelajaran gerak yang paling dasar, karena semua geraknya melibatkan element keseimbangan.

Kemampuan untuk merasakan suatau pergeseran dalam hubungan antara bagian – bagian tubuh yang mengubah keseimbangan seseorang di perlukan untuk stabilitas yamg efisien. Kemampuan untuk mengkompensasi perubahan ini secara cepat dan akurat dengan pergerakan yang sesuai juga penting. Gerak pergantian ini harus dapat menjaga keseimbangan, tetapi tidak boleh berlebihan. Gerakan itu harus dibuat hanya dari bagian – bagian tubuh yang diperlukan dalam keseimbangan. Kemampuan stabilitas anak harus fleksibel sehingga mereka dapat membuat semua jenis pergerakan dalam kondisi apapun dan masih tetap dapat menjaga hubungan dasar mereka terhadap gaya gravitasi.

Harus dicatat disisni bahwa istilah stabilitas yang digunakan didalam teks ini diluar istilah gerak nonlocomotor atau nonmanipulative. Kategori stabilitas gerak meliputi istilah – istilah ini tetapi lebih jauh lagi menyiratkan penjagaan kontrol tubuh dalam gerak yang menempatkan sebuah premi dalam keseimbangan. Semua gerak melibatkan element stabilitas jika dipandang melalui perspektif keseimbangan. Oleh karena itu semua aktifitas gaya gerak dan manifulatif merupakan gerak – gerak stabilitas. Gerak dasar tertentu mungkin terpisah antara satu dengan lainnya yang membutuhkan keseimbangan terkontrol.

Gerak aksial dan berbagai macam postur keseimbangan statis dan dinamis dipertimbangkan sebagai komponen utama stabilitas. Gerak Aksial atau nonlocomotor, merupakan gerak terarah dari otot saat berada dari posisi statis. Membengkok, memutar, melentur, meregang dan mengayun adalah gerak – gerak aksial. Postur merupakan posisi tubuh lain yang menempatkan sebuah premium pada penjagaan keseimbangan saat berada pada posisi keseimbangan statis atau dinamis. Berdiri, duduk, terbalik, berguling, berhenti, menghindar dan mendarat, begitu pula berjalan dan keseimbangan satu kaki merupakan postur keseimbangan statis atau dinamis

C.      Kesimpulan

1.      Pengembangan kemampuan gerak dasar merupakan dasar bagi pengembangan gerak anak.
2.      Berbagai macam pengalaman gerak memberikan mereka kekayaan informasi yang mendasari persepsi mereka tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka.
3.      Dapat mengidentifikasi fase gerak     dasar pada setiap siswa
4.      Dapat merancang pembelajaran      yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan serta pola gerak dasar yang dimiliki pada setiap siswa
5.      Dapat memberikan pembelajaran gerak pada siswa disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia anak/siswa
6.      Kemampuan gerak anak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi sarana dan prasarana