Rusli Lutan
ABSTRAK
Pedagogi
Olahraga (Sport pedagogy) adalah sebuah disiplin ilmu keolahragaan yang
berpotensi untuk mengintegrasikan subdsiiplin ilmu keolahragaan lainnya untuk
melandasi semua praktik dalam bidang keolahragaan Yang mengandung maksud dan
tujuan untuk mendidik.
Pendahuluan
Kajian ruang
lingkup sport pedagogy istilah lazim dan disepakati di tingkat
internasional memang tidak lepas dari pemahaman kita terhadap eksistensi ilmu
keolahragaan (sport science). Dari perspektif sejarah, di Indonesia, status
dari pengakuan terhadap ilmu keolahragaan tergolong sangat muda baik ditinjau
dari tradisi dan paradigma penelitian maupun produk riset Yang dapat diandalkan
untuk melandasi tataran praksis. Akademi Pendidikan Jasmani yang didirikan di
Bandung pada tahun 1950, di bawah naungan Universitas Indonesia. merupakan
cikal bakal dari lembaga yang mengemban misi, terutama untuk penyiapan tenaga
guru yang berkualitas pendidikan tinggi di bidang pendidikan jasmani.
Meskipun
paparan dalam tulisan ini di sana sini menyinggung uraian tentang pedagogi
olahraga dari aspek perkembangannya, tetapi risalah ini lebih diarahkan pada
pengenalan batang tubuh pedagogi olahraga itu sendiri yang dipahami sebagai
medan penelitian, sekaligus pengembangan; ilmu yang melandasi semua upaya yang
mengandung intensi yang bersifat mendidik, Itulah sebabnya, pedagogi olahraga
memiliki peluang pengembangan dan penerapan, tidak hanya dalam lingkup
penyelenggaraan pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah atau lembaga formal,
tetapi juga di luar persekolahan seperti di perkumpulan olahraga, terutama di
klub‑klub pembinaan olahraga usia dini.
Sangat
banyak “sisi gelap” atau ekses negatif kegiatan beolahraga, dan bahkan terbuka
kesempatan luas bagi guru pendidikan jasmani atau pelatih untuk menimbulkan
kerusakan secara sistematis dan bersifat akumulatif pada peserta didik sebagai
akibat semua tindakannya dan perlakuannya tidak memiliki landasan ilmiah.
Landasan keilmuan di bidang olahraga ini dibutuhkan selain bermanfaat untuk
mencegah tindakan mala‑praktik yang membahayakan masa depan peserta
didik, tentu yang tak kalah pentingnya ialah agar keseluruhan upaya pembinaan
itu dapat dipertanggung jawabkan secara etika profesional.
Kukuhnya
landasan ilmiah bagi segenap upaya kependidikan dalam olahraga menuntun ke arah
efisiensi proses dan efektivitas pencapaian tujuan yang diharapkan. Hanya
dengan landasan ilmiah yang kukuh baru akan terjamin prinsip akuntabilitas
dalam pendidikan jasmani dan olahraga, dan atas dasar itu pula para pendidik di
bidang olahraga dapat mempertangggung jawabkan upaya pembinaannya secara
terbuka ke masyarakat.
Perspektif
Sejarah
Kerangka
ilmu keolahragaan itu sendiri di Indonesia, secara gamlang, mulai dikenal
melalui kontak dengan para ahli dari Jerman Barat pada tahun 1975, tatkala
diselenggarakan lokakarya internasional tentang Sport Science. Hasil lokakarya
berdampak kuat pada pengembangan kurikulum Sekolah Tinggi Olahraga meskipun
masih amat sesak muatannya dengan pengetahuan tentang isi (content
knowledge). Beberapa sub‑disiplin ilmu keolahragaan (misalnya,
biomekanika olahraga, filsafat olahraga, fisiologi olahraga) dalam nuansa
sendiri‑sendiri (multidiscipline) mulai dikembangkan yang di dukung
oleh ilmu‑ilmu pengantar lainnya dalam pendidikan (misalnya, psikologi
pertumbuhan dan perkembangan) dan ilmu sosial lainnya (misalnya,
sosiologi dan anthroplogi) yang dip perlu dikuasai oleh para calon guru,
pelatih, dan pembina olahraga di bidang rekreasi.
Medan
layanan jasa mulai diidentifikasi meskipun masih amat bersifat umum, belum
terinci, yang berlaku sampai sekarang, seperti tercantum dalam Undang‑Undang
Sistem Keolahragaan Nasional, meliputi olahraga pendidikan (pendidikan
jasmani), olahraga rekreasi, dan olahraga kompetitif, sehingga penyiapan
ketenagaan ditampung pada tip jurusan yang sampai sekarang masih berlaku di
Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI), yakni Jurusan Pendidikan Olahraga, Jurusan Kepelatihan
Olahraga, dan Jurusan Pendidikan Rekreasi dan Kesehatan.
Setelah
terjadi perluasan mandat yang disusul dengan konversi Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi universitas, FPOK di IKIP lainnya di beberapa
kota di Indonesia berubah nama menjadi Fakultas Ilmu Keolahragaan, sementara,
FPOK di Bandung tetap tidak berubah nama, yang didorong oleh motif untuk
mempertahankan misi kependidikan melalui olahraga di Indonesia yang dirasakan
sangat penting untuk dikembangkan. Hanya sedikit perubahan di FPOK UPI Bandung,
yaitu dibukanya proÂgram Ilmu Keolahragaan (IKOR) dengan isi kurikulum yang
sarat dengan subdisiplin ilmu keolahragaan. Beberapa tahun sebelumnya, terutama
setelah saya pulang dari State University of New York di Albany (SUNY), AS,
mata kuliah pedagogi olahraga (sport pedagogy) mulai dikembangkan,
termasuk pula mata kuliah teori belajar motorik dengan pendekatan motor
control yang sebelumnya lebih menekankan pendekatan psikologi, terutama
teori‑teori belajar umum yang dikenal dalam bidang pendidikan.
Sejak terjadi
konversi IKIP menjadi universitas pada tahun 1999 hingga sekarang, hanya
sedikit kemajuan yang dicapai, jika tidak disebut mengalami kemandegan dari
sisi pengembangan substansi keilmuannya sebagai akibat rendahnya kegiatan
penelitian yang terkait dengan kelangkaan infrastruktur dan biaya pengembangan,
di samping kurangnya tenaga dosen penekun sub‑sub disiplin ilmu keolahragaan.
Filsafat olahraga (sport philosophy)dan sejarah olahraga (sport
history) misalnya, yang dianggap penting sebagai landasan pemahaman tentang
olahraga dan pengembangan kebijakan pembangunan olahraga, justru paling
terlalaikan. Keadaan ini boleh jadi sebagai akibat khalayak masyarakat akademis
di bidang keolahragaan larut dalam kegiatan pragmatis, meskipun tidak banyak
tindakan yang dianggap cepat tanggap untuk menjawab tantangan berskala nasional
di bidang keolahragaan.
Kondisi
tersebut di atas menempatkan ilmu keolahragaan di Indonesia masih pada posisi
“feri‑feri”, sebagai “pengikut”, sementara pusat‑pusat pengembangan ilmu
keolahragaan di Eropa, terutama Pula di Amerika Utara tetap memainkan peranan
sebagai “pusat”, yang pada gilirannya sungguh jelas memapankan teori
ketergantungan dalam bidang olahraga. Publikasi para pakar olahraga Indonesia’
di tingkat internasional masih amat jarang muncul, seperti juga halnya pada
tingkat nasional sekalipun, yang menyebabkan kita masih sebagai konsumen, bukan
penghasil ilmu yang tekun. Keadaan ini berdampak pada pemanfaatan buku‑buku
rujukan yang hampir sepenuhnya bergantung pada terbitan luar negeri, terutama
yang berbahasa Inggris dari Amerika Utara, melalui penerbit‑penerbit kelas
dunia (misalnya, penerbit Human Kinetics), sementara sumbersumber bacaan yang
berbahasa lainnya, seperti yang berbahasa Jerman dan Rusia, yang umumnya
juga tinggi mutunya, sangat jarang dijumpai atau dipakai dalam perkuliahan,
yang disebabkan karena langka dalam hall kepemilikan termasuk penguasaan
bahasanya. Persoalan hambatan ekses informasi dalam ilmu keolahragaan,
sebenarnya sudah dapat diatasi melalui begitu banyak portal‑portal dalam
internet yang memuat banyak tulisan lepas, dan bahkan jurnal‑jurnal dengan
berlangganan.
Bagaimana
membangun kemandirian dalam pengembangan olahraga sebenarnya telah dirintis
selama era “revolusi olahraga” dalam rangka membangun “Indonesia Baru” yang
pada dasarnya bertujuan untuk mematahkan hegemoni Barat, yang digelar dalam
platform politik Bung Karno pada awal tahun 1960‑an yang terarah pada
pembangunan watak dan bangsa (character and nation building). Namun,
konsep, dasar dari sisi filsafat tak banyak pengembangannya, dan penjabarannya
pun tak sempat banyak dikerjakan, apalagi setelah kejatuhan Bung Karno pada
tahun 1965‑1966 karena seolah‑otah konsep itu tabu untuk dibicarakan.
Perubahan yang masih melekat hingga sekarang ialah istilah pendidikan jasmani
pada tahun 1950‑an berubah menjadi pendidikan olahraga, meskipun perubahan
kembali ke asal telah berlangsung dalam wacana nasional dan kurikulum untuk
mengikuti trend internasional yang lebih biasa berkomunikasi dalam istilah
pendidikan jasmani (physical education).
Bung Karno,
pada waktu itu, memahami tujuan berolahraga di Indonesia sedemikian khas,
berbeda dengan paham Barat, karena sedemikian tajam penekanannya pada
pencapaian tujuan nasional, tujuan revolusi, bukan untuk kepentingan pribadi
olahragawan, sehingga generasi tahun 1960‑an tetap ingat hingga sekarang
tentang pentingnya pengabdian hidup bagi: negara dedication of life melalui
olahraga.
Istilah
olahraga, sebuah istilah yang bersifat generik, dipandang sangat mengena dalam
pengertian, karena kata “olah”, selain sudah sangat biasa digunakan dalam
kehidupan sehari‑hari, seperti “mengolah lahan,” atau “mengolah makanan,”
dalam konteks “raga” sebagai subyek, maka dipahami istilah olahraga itu tidak
bermakna semata “mengolah” fisik, tetapi “man as whole”, atau manusia
seutuhnya, sehingga dalam konteks ini istilah olahraga mengandung makna membina
potensi, sekaligus pembentukan (forming). Prof. Riysdorp, selaku ketua
ICHPER‑SD, dalam sambutannya ketika membuka konferensi internasional International
Council on Health, Physical Education and Recreation Sport and Dance (ICHPER‑SD)
tahun 1973 di Denpasar, Indonesia, secara ringkas memaknai istilah
olahraga itu sangat mengena, dan beliau menegaskan, hal itu menunjukkan
kepedulian bangsa Indonesia yang begitu mendalam terhadap olahraga dalam
kontesks pendidikan.
Cukup banyak
konvensi atau konferensi internasional yang berbobot yang menghasilkan deklarasi
tentang pendidikan jasmani dan olahraga, misalnya, deklarasi UNESCO di Paris
tahun 1978, tentang “Piagam Internasional Pendidikan Jasmani dan Olahraga” yang
dalam salah satu pasal menegaskan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga
merupakan hak asasi. Kongres dunia tentang pendidikan jasmani di Berlin, Jerman
tahun 1999, bertema “krisis global pendidikan jasmani” sesungguhnya menyuarakan
keprihatinan dunia akan status dan keterlaksanaan program pendidikan jasmani di
sekolah‑sekolah yang kian mengalami kemunduran berdasarkan beberapa indikator
seperti dana yang sangat terbatas, status profesi dan keilmuan yang rendah,
selain alokasi waktu untuk pendidikan jasmani dalam kurikulum kian berkurang
jumlahnya. Kelangkaan infrastruktur untuk memberikan kesempatan berolahraga
secara nyaman dan aman, terutama di negara berkembang merupakan sebuah krisis
yang amat mendalam.
Keseluruhan
upaya untuk membangun kesepakatan internasional itu didorong oleh kepentingan
bersama bahwa pendidikan jasmani dan olahraga, Â jikalau dibina dengan
baik, akan menghasilkan perubahan yang sangat berharga, dimulai dari perubahan
tingkat mikro individual hingga kelompok masyarakat, dan bahkan nasional, yang
tertuju pada peningkatan kualitas hidup yang baik.
Karena itu
peningkatan pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah atau di
lembaga‑lembaga pendidikan, tujuannya begitu erat guna meningkatkan kualitas
pendidikan. Bahkan dalam konteks kepentingan dunia yang bersifat global
misainya, pihak PBB sendiri memahami keselarasan tujuan yang dicapai melalui
gerakan olimpiade untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan damai. Penekanan
program yang bersifat inkfusif, yang tertuju pada setiap orang, golongan, dan
wilayah, terutama anak‑anak di daerah kantong‑kantong   Â
kemiskinan, masuk ke dalam prioritas. Untuk ikut serta menjawab tantangan
pencapaian tujuan pembangunan millennium (Millenium Development Goal, 2015),
program pendidikan jasmani dan olahraga, melalui kampanye tingkat nasional dan
internasional, juga diarahkan untuk memberikan andil.
Kesemua
upaya itu memerlukan landasan ilmiah. Dalam kaitan ini, pada tahun 1983, International
Council of Sport Science and Physical Education (ICSSPE) mengadopsi statuta
yang berisi pernyataan tentang kepedulian terhadap ilmu keolahragaan. Di
antaranya, dalam ayat I disebutkan peranan ICSSPE sebagai organisasi untuk
mempromosi dan menyebarluaskan hasil dan temuan dalam ilmu keolaragaan dan
penerapannya dalam konteks budaya dan pendidikan. Analisis yang dilakukan oleh
Kirsch (1990) tentang pelaksanaan dan substansi kongres ilmiah di Olimpiade
sejak 1909 di Paris hingga 1992 di Malaga (Spanyol) dapat dipakai sebagai
parameter dari dimensi sejarah tentang perkembangan tema‑tema ilmu
keolahragaan.
Seperti
pertanyaan yang juga sering muncul di Indonesia, di Amerika Serikat, Henry
(1970, 1980) pernah menulis: manakala disiplin akademik pendidikan jasmani
belum eksis, disiplin akademik tersebut perlu ditemukan. Namun pertanyaan yang
berkepanjangan, apakah pendidikan jasmani atau olahraga dapat. dikembangkan
sebagai sebuah disiplin ilmu? Apa objek formal penelitiannya, dan apa metode
yang tepat untuk digunakan. Abernathy dari Waltz (1964) melihat fungsi sentral
pendidikan jasmani sebagai sebuah disiplin akademik dalarn mengkaji gerak
insani di bawah kategori keterbatasan gerak, pengalaman gerak, struktur
kepribadian, persepsi, dan lingkungan sosio‑kultural.
Karena objek
kajiannya yang unik yang melibatkan fenomena sosio‑psiko‑bio-kultural, maka
pembangunan teori di bidang keolahragaan menjadi amat luas dan menggiring upaya
ke arah pendekatan lintas disiplin. Fenomena belajar keterampilan olahraga
misalnya sungguh melibatkan aspek nouro‑fisiologis dan psikologis secara
simultan yang tidak terlepas dari konteks sosial budaya walaupun tetap mungkin
dianalisis secara sendiri-sendiri sesuai dengan tema‑tema pokok yang,
membangun kerangka teoritis yang mencakup substansi pengetahuan yang
disampaikan. karakteristik peserta didik, konteks, dan assessmen.
Medan
Penelitian
Dari
perspektif sosiologis, olahraga dipandang sebagai bagian dari budaya, dan
karena itu masyarakatlah yang membentuknya sebagai bagian dari hidupnya. Itulah
sebabnya. dari waktu ke waktu definisi olahraga berubah sesuai dengan persepsi
kelompok masyarakat. Misalnya, definisi olahraga yang disepakati pada era tahun
1960‑an lebih diwarnai oleh nuansa ‑upaya perjuangan melawan unsur alam
atau diri sendiri”. Seiring dengan gerakan olahraga yang bersifat inklusif,
“Sport for All” sejak tahun 1972 di Eropa, Europe Council sepakat untuk
mengartikan olahraga sebagai “aktivitas spontan, bebas dan dilaksanakan pada
waktu luang.”
Dengan kata
lain, olahraga mencakup pengertian yang luas bukan hanya olahraga kompetitif
yang berisi kegiatan perlombaan atau pertandingan untuk memperagakan prestasi
yang optimal, tetapi juga kegiatan jasmani pada waktu senggang sebagai pelepas
telah, misalnya untuk tujuan pembinaan kebugaran jasmani. Definisi semacam ini
terangkum dalam paparan Herbert Haag (1986) yang menyatakan bahwa olahraga
tidak diartikan dalam lingkup sempit, olahraga kompetifif, tetapi maknanya
adalah mencakup kegiatan jasmani, baik formal maupun informal sifatnya, dari
bahkan juga dalam bentuk kegiatan ‑fundamental seperti pembinaan kebugaran
jasmani.
Menghadapi
kenyataan bahwa olahraga itu sangat kompleks, pakar Olahraga di Indonesia telah
mencoba untuk menggolongkannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
’sehingga dikenal olahraga pendidikan (pendidikan jasmani) yang menekankan
aspek kependidikan, olahraga rekreasi untuk tujuan yang bersifat rekreatif,
olahraga kompetitif untuk tujuan mencapai prestasi. Jenis dan bentuk olahraga
berkembang sesuai dengan motif kelompok masyarakat pelakunya.
Meskipun
amat beragam bentuk dan jenisnya, tetapi masih dapat diidentifikasi persamaan
umum yang menunjukkan ciri khas, atau “inner horizon” olahraga. Sisi bagian
dalam olahraga, memimjam istilah Husserl (1972), merupakan medan penelaahan
dari objek formal pengembangan ilmu keolahragaan. Namun kemudian, intinya yang
paling hakiki ialah fenomena gerak yang ditampilkan dalam suasana bermain (play),
sehingga kriteria penilaian tertuju pada adanya faktor kebebasan dan
kesengajaan secara sadar untuk melaksanakannya. Dengan kata lain fenomena gerak
itu didasarkan pada kesadaran manusia untuk menggerakkan dirinya. Dalam kaitan
itu maka esensi lainnya dari olahraga ialah tindakan yang mengandung unsur
kesukariaan (joy) dan kebabagiaan. Keseluruhan ciri yang disebutkan tadi
menempatkan hakikat olahraga sebagai subsistem bermain.
Persoalannya
tidak berbenti sampai di situ. Dunia olahraga tentu berbeda banyak dengan dunia
bermain atau berbeda pula dengan kegiatan permainan yang mengandung unsur
kebetulan (misalnya, permainan domino) atau permainan yang lebih banyak
mengandalkan kemampuan intelektual (misalnya, catur). Gambaran yang lebih
spesifik pada olahraga menekankan aspek gerak insani (human movement) sebagai
unsur utama sebagai kegiatan yang nyata dan berkecenderungan untuk menampilkan
performa.
Orientasi
fisikal, seperti yang tampak pada kegiatan olahraga merupakkan ciri yang utama,
sehingga di dalamnya terlibat unsur gerak yang melibatkan daya tahan,
kecepatan, kekuatan, power, dan keterampilan (skill) itu sendiri. Kegiatan
olahraga. selalu menampakkan diri dalam ujud nyata kehadiran fisik, peragaan
diri secara sadar bertujuan disertai dengan penggunaan alat‑alat konkret
seperti bola, raket dan bentuk lainnya.
Perwujudan
gerak itu terkait dengan aspek dorongan pada manusia yang terkait dengan faktor
sosial dan budaya, pengaruh suasana kejiwaan, emosi dan motif. Pelaksanaan
olahraga selalu melibatkan keterampilan yang dipelajari yang dapat dilakukan hanya
melalui proses ajar, yang dalam pelaksanaannya melibatkan suasana van yang
menjalin hubungan sosial. Karena itu di dalam proses itu ada unsur pendidik dan
peserta didik bahkan juga ada unsur persaingan untuk menunjukkan ketangkasan
atau kelebihan pribadi.
Perilaku
olahraga itu juga sering digambarkan sebagai sesuatu yang riil, bukan bersifat
artifisial yang dirancang dalam lakon‑lakon bertema (misalnya, dalam gulat
professional “Smackdown” yang sering disebut olahraga sirkus), Kegiatan yang
dilaksanakan oleh seorang olahragawan atau atlet tidak samata‑mata terpaku
pada pokok peranan yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan tugas gerak berupa
teknik‑teknik dasar. Yang terjadi ialah seseorang, bersama yang lain,
memainkan sebuah permainan yang benar‑benar nyata, tidak berpura‑pura dalam
semangat kesungguhan yang menyerap seluruh perhatian. Karena itu di dalamnya
ada kesungguhan, bukan kepura‑puraan, dan bahkan ada unsur kejutan, sehingga
praktik “main sabun” dalam sepakbola misalnya, yang skornya sudah ditentukan
sungguh dianggap sebagai tindakan sadar menghancurkan ciri permainan yang amat
bertentangan dengan ciri olahraga.
Pada
kebanyakan kegiatan olahraga maka prinsip performa dan prestasi begitu
menonjol. Di dalamnya ada ketegangan karena melibatkan pengerahan tenaga yang
melibatkan nuansa kejutan dan bahkan keberuntungan, sehingga hasil yang dicapai
sukar diprediksi. Dalam kaitan ini maka prestasi yang meskipun diperagakan
melalui faktor jasmaniah, tetapi pada dasarnya melibatkan diri manusia secara
utuh. Kegiatan olahraga dilaksanakan secara suka rela, dan tertuju pada
pengembangan diri.
Struktur
Ilmu Keolahragaan
Kerangka
dasar ilmu keolahragaan yang disusun berdasarkan kemajuan yang dianggap cukup
mapan, seperti yang dipaparkan Prof. Haag di Jerman sejak tahun 1979,
sangat membantu kita untuk menelaah kedudukan sport pedagogy. sebagai Salah
Satu di antaranya, sebagai isi dari ilmu keolahragaan.
Ketujuh
bidang teori yang dimaksud meliputi sport medicine, sport biomechanic, sport
psychology, sport sociology, sport pedagogy, sport history dan sport
philosophy. Masing‑masing bidang memiliki medan penelitian yang spesifik
pula. Urutan ketujuh bidang teori tersebut dipaparkan dalam pengelompokkan yang
dianggap logis. Sport medicine dan sport biomechanic olahraga masuk ke dalam
kelompok ilmu pengetahuan alam, sementara spot‑[ psychology, sport sociology
dari sport pedagogy tergolong ke dalam rumpun ilmu pengetahuan sosial dari
behavioral. Sport history dan Sport philosophy termasuk ke dalam kelompok
hermeneutical‑normative science. Paparan tersebut juga Menunjukkan bahwa
“ibu” ilmu pengetahuan yang menjadi landasan pengembangan ilmu keolahragaan
ialah medicine, biologi/fisika, psikologi, sosiologi, pedagogi, sejarah dari
filsafat.
Model
pengelompokkannya tergambar dalam sebuah kontinuum, dari IPA ke humaniora, atau
secara metodologis, dari analitis‑empiris ke hermenetik‑teoretis, atau dari
yang konkret ke abstrak.
Sejak tahun
1980, sesuai dengan tuntutan yang relevan di masyarakat, berkembang lima bidang
teori baru dalam ilmu keolahragaan. Kelima bidang teori yang menunjukkan
kemajuan pesat itu meliputi sport information, sport politics, sport law, sport
engineering, dan sport economy. Masing‑masing terkait dan bahkan meminjam
konsep, ilmu yang sudah mapan yakni information science, political science,
law, engineering dan economic.
Sementara
itu juga telah dikelompokkan bidang teori yang lebih spesifik yang menjadi jati
diri ilmu keolahragaan, bertitik tolak dari wilayah spesifik yang meliputi faktor
gerak (movement), bermain (play), pelatihan (training), dan
pengajaran dalam olahraga (sport instruction). Dari ke lima wilayah
spesifik ini lahirlah lima dimensi dari perspektif ilmu dan teori yakni
movement science dan movement theory; play science dan play theory; training
science dan training theory; dan instruction science of sport dan instruction
theory of sport.
Dengan
demikian semakin jelas gambaran tentang taksonomi ilmu keolahragaan yang
dibangun berdasarkan sejumlah bidang teori. kecenderungan ini menunjukkan
perkembangan ilmu keolahragaan ke arah spesialisasi dan fragmentasi.
Landasan
Filosofis Pedagogi Olahraga
Pandangan
dualisme Descartes yang memahami dikhotomi jiwa dari badan berpengaruh terhadap
profesi di bidang keolahragaan, yakni raga dipandang samata‑mata sebagai
sebuah objek, yang diungkap dalam perumpamaan yang lazim dikenal yakni “the
body instrument”, “the body‑machine”, atau sekarang “the body‑computer”.
Sebagai akibatnya maka sedemikian, menonjol pandangan yang mengutamakan aspek
raga sehingga fisiologi dan anatomi menduduki posisi yang amat kuat dalam
penyiapan tenaga guru pendidikan jasmani, dan pendidikan jasmani dipahami
sebagai sebuah subjek yang penting bagi pembinaan fisik yang dipandang sebagai
mesin.
Selanjutnya,
konsep yang dikembangkan Maurice Merleau‑Ponty tentang “the body subject”
dapat dipandang sebagai sebuah perubahan radikal pemikiran dualisme Cartesian.
Inti dari pemikiran Ponty ialah bahwa manusia itu sendirilah yang secara sadar
menggerakkan dirinya sehingga tubuh atau raga aktif sedemikian rupa untuk
kontak dengan dunia sekitarnya. Ide tentang the body subject mengaskan kesatuan
antara jiwa dan badan.
Berangkat
dari konsep Ponty, Gordijn (Belanda) mengembangkan pandangan tentang gerak
insani yakni gerak itu dipandang sebagai sebuah “dialog” antara seseorang yang
bergerak dan lingkungan sekitar yang “mengundangnya” untuk bergerak. Pandangan
ini menegaskan bahwa hubungan yang erat antara seseorang dan dunia sekitarnya
merupakan sebuah persoalan yang mendasar Karena itu gerak manusia itu merupakan
sebuah cara yang bermakna untuk berkiprah di lingkungan sekitar. Gerak manusia
adalah perilaku
bermakna dalam penciptaan relasi dengan sekitar sehingga kesemua perilaku itu bukanlah produk dari reaksi mekanis terhadap stimulus, tetapi karena didorong maksud yang jelas, sesuai dengan “undangan” lingkungan sekitar. Secara sadar orang bermaksud untuk melempar, melompat, berenang atau tujuan lain, yang kemudian diwujudkan dalam perilaku gerak. Karena ada rintangan yang menghalangi perjalanan seseorang, maka ia dapat mengambil keputusan seperti melompati rintangan tersebut atau rintangan itu cukup dilangkahi, sesuai dengan bentuk rintangan atau ketinggiannya.
bermakna dalam penciptaan relasi dengan sekitar sehingga kesemua perilaku itu bukanlah produk dari reaksi mekanis terhadap stimulus, tetapi karena didorong maksud yang jelas, sesuai dengan “undangan” lingkungan sekitar. Secara sadar orang bermaksud untuk melempar, melompat, berenang atau tujuan lain, yang kemudian diwujudkan dalam perilaku gerak. Karena ada rintangan yang menghalangi perjalanan seseorang, maka ia dapat mengambil keputusan seperti melompati rintangan tersebut atau rintangan itu cukup dilangkahi, sesuai dengan bentuk rintangan atau ketinggiannya.
Konsep dasar
 itulah yang melandasi pemahaman para pemangku profesi pendidikan jasmani
dan olahraga bahwa pengalaman yang disediakan melalui kedua kegiatan yang tak
terpisahkan itu sangat potensial untuk mendidik seseorang. Bahkan akhir‑akhir
ini, pihak PBB memposisi olahraga sebagai alat bagi pembangunan dan perdamaian;
pendidikan jasmani dan olahraga merupakan “school of life” yang efektif.
Pandangan
Gordijn tentang hakikat gerak manusia yang dikembangkan sekitar lebih dari 40
tahun yang lalu itu bersumber dari observasi dan interpretasi fenomenologis.
Namun kemudian, konsep “ecological psychology” yang dikembangkan oleh J.J
Gibson (pendiri psikologi ekologis) memperkuat pandangan Gordijn. Menurut teori
yang dikembangkan Gibson, gerak manusia dijelaskan sebagai perubahan bermakna
dalam relasi antara seseorang dan lingkungan sekitarnya.
Pendidikan
Jasmani dan Pedagogi Olahraga
Meskipun
rumusan lingkup unsur pedagogi olahraga (sport pedagogy) beragam
 pada berbagai negara, karena terkait dengan perbedaan budaya, akar
sejarah, dan standar metodologi, namun pada tingkat internasional, terdapat
persamaan pemahaman yaitu pendidikan jasmani dipahami sebagai sebuah
bidang studi (mata pelajaran) di sekolah, dan pedagogi olahraga dipandang
sebagai sebuah subdisipIin iImu dalam kerangka iImu keolahragaan.
Di berbagai
negara di seluruh dunia, perkembangan pendidikan jasmani dan pedagogi olahraga
terkait dengan sejarah, yang mencerminkan perbedaan perkembangan secara
nasional dan perbedaan konsep, seperti juga perbedaan teori dan paradigma.
Meskipun perspektif sejarah tampak merupakan bagian terpadu dari semua
Subdisiplin ilmu ke‑olahraggaan (misalnya, sport medicine, sport
psychology), namun ada elemen sejarah yang amat khusus yang mengaitkan kedua
subdisiplin ilmu keolahragaan, pedagogi olahraga, dari sejarah olahraga (sport
history).
Elemen‑elemen
sejarah yang menjadi cakupan kajian sejarawan olahraga dan ahli pedagogi
olahraga, secara umum ditekankan pada:
- semua aktivitas jasmani dan
olahraga yang dilakukan siswa di dalam dari di luar sekolah;
- dampak gerakan olimpiade modern
terhadap pendidikan jasmani;
- kebijakan pendidikan suatu
negara tentang penyelenggaraan pendidikan jasmani;
- perbedaan tipe program intra
dan ekstrakurikuler;
- perubahan latar belakang
falsafah dan ilmu sosial yang melandasi program dari tujuan pendidikan
jasmani dan olahraga;
- Tujuan program studi dan
lingkup mala kuliah lembaga pendidikan tenaga kependidikan (guru) dan
perkembangan lembaga tersebut;
- sejarah perkembangan struktur
kurikulum dan silabi;
- metode pengajaran, evaluasi dan
pengukuran tradisional dari sebagian sudah terlupakan;
- bentuk‑bentuk latihan
terpilih, termasuk fasilitas, perlengkapan, dan lain‑lain.
Seperti
dikemukakan oleh para ahli lainnya (Pieron, Cheffers, dan Barette (1994; dalam
Naul, 1994) pedagogi olahraga merupakan sebuah disiplin yang terpadu dalam
struktur ilmu keolahragaan. Paradigma ini telah diadopsi di Indonesia dalam
pengembangan pedagogi olahraga di FIK/ FPOK/JPOK dengan kedudukan bahwa
pedagogi olahraga dianggap sebagai “induk” yang berpotensi untuk memadukan
konsep/teori terkait dari relevan dari beberapa subdisiplin ilmu keolahragaan
lainnya terutama dalam konteks pembinaan dalam arti luas dan paradigma
interdisiplin (Matveyev, dalam Rush Lutan, 1988) Pandangan ini tak berbeda
dengan tradisi di Jerman yang menempatkan pedagogi olahraga dalam kedudukan
sentral dalam struktur ilmu keolahragaan (Wasmund, 1973). Dalam model yang
dikembangkan di Universitas Olahraga Moskow, pedagogi olahraga ditempatkan
sebagai “pusat” yang berpotensi untuk memadukan beberapa subdisiplin ilmu dalam
taksonomi ilmu keolahragaan, sementara para ahli meletakkan sport, medicine
yang mencakup aspek keselamatan (safety) dan kesehatan sebagai landasan bagi
pedagogi olahraga (Rush Lutan, 1998; dalam laporan hasil The Second
Asia‑Pacific Congress of Sport and Physical, Education University President).
Widmer
(1972) menjelaskan objek formal pedagogy olahraga yaitu “fenomena olahraga dari
fenomena pendidikan, tatkala manusia dirangsang agar mampu berolahraga. Bagi
Grupe & Kruger (1994), pedagogi olahraga mencakup dua hal utama: (1)
tindakan pendidikan praktis dalam bermain dan olahraga, dan karena itu ada
landasan teoretis bagi kegiatan olahraga yang mengandung maksud mendidik
tersebut; dan (2) praktik yang dimaksud berbeda dengan praktik dan konsep lama
dalam pendidikan jasmani yang mengutamakan latihan gaya militer dan drill di
beberapa negara, khsusnya di Jerman; praktik baru itu disertai konsep teoretis
pendidikan jasmani, kontrol terhadap badan, dan disiplin, yang menyatu dengan
gerak fisik, ability, dan keterampilan di bawah pengendalianjiwa dan kemauan.
Lingkup
kajian dan layanan pedagogi olahraga tidak terbatas di sekolah tetapi juga di
luar sekolah, sehingga bukan hanya peduli terhadap anak‑anak tetapi juga
kepada semua lapisan khalayak sasaran, termasuk kelompok khusus dari orang
cacat atau lainnya yang berpartisipasi untuk meningkatkan kondisi fisiologis,
mental, atau psikososial. Dalam konteks keterpaduan antar subdisiplin, Wasmund
(1972) menjelaskan kaitan antara pedagogi olahraga dan teori pelatihan yaitu
pedagogi olahraga untuk menjawab “why” dan teori pelatihan (training theory)
untuk menjawab “how”, sehingga interface antara keduanya adalah pada
didaktik dan metodik.
Pedagogi
olahraga di FPOK Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung misalnya,
memanfaatkan filsafat olahraga (sport philosophy) dan sejarah olahraga (sport
history) sebagai landasan pokok bagi pengembangan batang tubuh keilmuan
pedagogi Pandangan ini, secara independen, pernah dikupas oleh Naul (1986;
1994) yang menyatakan bahwa “perspektif sejarah pedagogi olahraga berkaitan
erat dengan sejarah olahraga untuk alasan metodologis.” Karena itu, perspektif
sejarah merupakan elemen penting dari kajian pedagogi olahraga, seperti halnya
pendidikan jasmani merupakan unsur penting dalam sejarah olahraga.
Memang kita
jumpai masalah dalam memahami keterkaitan pedagogi olahraga dengan subdisiplin
ilmu lainnya, terutama masalah metodologis yang menempatkan pedagogi olahraga
sebagai induk bagi subdisiplin lainnya dalam ilmu ke‑olahragaan, yang
sesungguhnya berakar pada sejarah. Di beberapa negara seperti di Perancis
(Andrieu, 1990; Zoro, 199 1); McIntosh, 1968), Swedia (Lindorth, 1993), Belanda
(Kramer & Lommen, 1987), dan Amerika Serikat (Bennet, 1972; Spears &
Swanson, 1988), dijumpai keragaman aspek sejarah pendidikan jasmani yang muncul
dalam penelitian sosiologis dan sejarah. Di negara ini, seperti di negara
lainnya, pedagogi olahraga sebagai sebuah bidang kajian akademik tidak
berkembang dalam konsep nasional ilmu keolahragaan mereka. Hal ini karena di
Amerika, Kanada, Inggris, Perancis, dan negara‑negara Eropa lainnya, konsep “physical
education” atau “education physique,” masih dominan penggunaannya,
ketimbang pengembangan pedagogi olahraga (Pieron keragaman Cheffers, 1988;
dalam Naul, 1994).
Di
Indonesia, baik dalam pengertian paradigma pengembangan keilmuannya maupun
substansinya, pedagogi olahraga ini baru merupakan sebuah “embrio” dalam
taksonomi ilmu keolahragaan. Lebih dari dua dasawarsa, setelah mengenal
struktur dasar ilmu keolahragaan dalam International Workshop on Sport Science,
1975 di Bandung yang diikuti pimpinan dan dosen dari Sekolah Tinggi Olahraga
se‑Indonesia dengan nara sumber ahli‑ahli Jerman Barat (Prof. H. Haag,
Prof. Nowacki, Dr. Jansen, dan Bodo Schmidt), Indonesia tenggelam dalam
pencarian struktur ilmu keolahragaan, asyik dengan tema‑tema diskusi olahraga
kompetitif’. di sekitar feri‑feri ilmu kepelatihan dari sport medicine.
Melalui
pendekatan struktural, proses pencarian itu sampai pada tahap kesepakatan
tentang sosok, tubuh ilmu keolahragaan, yang antara lain didorong oleh proses
percepatan konversi IK113 menjadi universitas. Melalui seminar lokakarya
tentang konsep ilmu keolahragaan yang di eclat di IKIP Surabaya (sebelum
menjadi Universitas Negeri Surabaya) pada tahun 1998 yang lalu, berhasil
diidentifikasi taksonomi ilmu keolahragaan. Hasil seminar nasional itulah yang
kemudian melahirkan kurikulum program ilmu keolahragaan yang berorientasi pada
kesehatan olahraga dengan bobot muatan sekitar 60% yang IPA. yang mulai dibuka
pada tahun 1999, dan lebih signifikan lagi, setelah itu Komisi Disiplin Ilmu
Keolahragaan diakui eksistensinya, termasuk ke dalam Komisi Disiplin Ilmu berdasarkan
surat keputusan Dirjen Dikti yang diterbitkan pada tahun yang sama pula.
Sejak tahun
1980‑an perubahan memang banyak terjadi di tingkat internasional, terutama di
Amerika Utara, yaitu para ilmuan bidang keolahragaan, mulai memperkenalkan
“sport pedagogy” dengan alasan yang berbeda, dan mereka mulai menengok ke
perspektif sejarah sistem pendidikan jasmani (]ini kurikulum pendidikan jasmani
mereka sendiri (Siedentop, 1990). Di antara alasan yang dikemukakan Siedentop
ialah dampak krisis ekonomi yang menyebabkan penyerapan lulusan program
pendidikan jasmani yang amat rendah di pasar kerja (sekolah) sehingga melalui
pengembangan pedagogi olahraga akan terbuka spektrum layanan jasa profesional
di luar sekolah dan menyerap tenaga kerja.
Pedagogi
olahraga bukanlah merupakan perluasan istilah pendidikan jasmani. Perkembangan
pedagogi olahraga dalam paradigma interdisiplin‑intergratif didorong oleh
kebutuhan secara akademik, yakni dari aspek metodologi, sebab pendekatan
hermenetik dalam pendidikan jasmani sudah tidak memadai untuk mampu
mengembangkan segi keilmuannya. Banyak ilmuan internasional sepaham bahwa
istilah pedagogi olahraga berasal dari Jerman, tatkala latar belakang
filsafat/hermentik dari “teori pendidikan jasmani” mengalami kemunduran pada akhir
tahun 1960‑an, sehingga diganti dengan istilah pedagogi olahraga (Grupe,
1969; dalam Naul, 1994).
Namun
informasi lainnya (misalnya Naul, 1994) menyebutkan bahwa istilah pedagogi
olahraga itu tidak sepenuhnya benar berasal dari Jerman yang muncul pada tahun
1960‑an, karena Pierre de Coubertin menulis buku Pedagogi Sportive pada tahun
1922. Gerakan Olimpiade sejak tahun 1898 hingga Perang Dunia 1. seperti juga
buah fikiran yang tertuang dalam beberapa naskah dari artikel yang ditulis de
Coubertin (Perancis) Gebbardt dan Diem (Jerman), dan Kemeny serta
Guth‑Jarkowsky (Austria‑Hungaria), sempat diabaikan oleh para pedagogi
olahraga. Tulisan mereka tentang pendidikan olahraga menonjolkan pengembangan
moral, kemauan untuk berolahraga, dan semangat Olimpiade, dan pokok
fikiran itu sungguh sangat relevan dengan konsep dalam pedagogi olahraga. Para
tokoh peletak dasar pedagogi olahraga ini berfikiran sama dengan para pendidik
lainnya tentang hakikat dan gerakan pengembangan “body and mind” di Amerika
Serikat dan Jerman.
Sejarah
pedagogi olahraga mencakup bukan hanya model Inggris yang menekankan etik
Kristiani atau model semangat korps dalam olahraga pertandingan dan permainan
yang ‑ berpengaruh banyak terhadap reorganisasi pendidikan jasmani di sekolah
Perancis, Denmark, Jerman, Swedia dan negara Eropa lainnya setelah tahun
1880‑an. Seperti juga pernah kita kenal di Indonesia, tiga tokoh besar yang
tulisannya, sistem pendidikan jasmaninya, dan metode pengajarannya memperoleh
pengakuan internasional di Eropa dan Amerika Utara pada abad ke 19 ialah:
- Guthsrnuths (I 7 93) dart
Jerman yang berpengaruh di Denmark, Inggris, Swedia, Nederland, Belgia,
Italia dan negara lainnya;
- Pestalozzi (1807) di Swedia,
melalui Spies kemudian berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan
jasmani di sekolah‑sekolah Jerman, dan Amoros dan Clias berpengaruh
terhadap latihan fisik guru‑guru dan militer pria di Perancis dan
Inggris;
- Per Henrik Ling dan puteranya
Hjalmar, bersama dengan para penerusnya Royal Central Institute of
Gymnastic di Stockholm, mempengaruhi semua sistem nasional pendidikan
jasmani di seluruh Eropa dan Amerika Utara dalam periode yang
berbeda‑beda, yang bermula pada abad ke‑19.
Di berbagai
negara, pendidikan jasmani dibentuk kembali setelah tahun 1900, khususnya tahun
1920‑an. Perkembangan ini didukung kuat oleh dokter olahraga yang dikenal di
tingkat internasional yaitu Sargent (1906) di Amerika Serikat, dan Schmidt
(1912) di Jerman. Kedua tokoh itu menganjurkan tipe latihan senam dan metode pengajaran
yang tekanannya pada pembentukan (forming) fisik. Metoda alamiah menjadi
populer di Denmark dan Swedia yang dipromosi oleh Torngren (1914), Knudsen
(1915) dan Bukh (1923). Usaha mereka mendorong terjadinya reorganisasi
pendidikan jasmani di negara‑negara Eropa. Di Perancis, metode alamiah (la
methode naturelle) dikembangkan oleh Demeny dan Herbert, dan di Amerika
Serikat, di kenal Thomas D. Wood dengan pembaharuan dalam senam, dan di Jerman,
Erich Harte menjadi pendukung kuat aliran Austria “Gaulhofer dan Streicher”
(1922) yang keduanya dipengarubi oleh senam Denmark dan Swedia. Tulisan dan
hasil kuliah Gaulhofer dan Streicher membantu pelaksanaan reformasi pendidikan
jasmani di Jerman, Belanda, Inggris, dan negara Eropa lainnya pada tahun 1920‑an
dan 1930‑an (Grossing. 1991; Kramer membantu Lommen, 1987; McIntosh, 1968;
dalam Naul. 1994).
Pada masa
itu didirikan lembaga pendidikan tenaga guru bertaraf universitas dan
diperkenalkan ke dalam dunia akademik yang tumbuh di beberapa negara di Eropa.
Namun sekarang, di beberapa negara Eropa itu, masih terdapat perbedaan status
akademik pendidikan jasmani dan pendidikan tenaga guru.
Pada tahun
1960‑an terjadi perubahan di beberapa negara. Kebugaran jasmani dianggap
sebagai bagian penting dari tujuan pendidikan jasmani baik di Barat maupun di
Timur, semacam kebangkitan kembali aliran Swedia yang menekankan kebugaran
jasmani sebagai tujuan utama, manusia sebagai “mesin” yang harus dibina agar
berfungsi dengan baik, sementara landasan ilmiahnya adalah biologi (lihat,
Crum, 1994). Aspek performa menjadi bagian yang lebih penting karena berbagai
alasan. Pada tahun 1970‑an, kebijakan pendidikan jasmani banyak diperbaharui
oleh kebijakan negara bagian seperti di Negara negara Eropa.
Tahun
1970‑an merupakan puncak perkembangan pendidik ail jasmani dengan peningkatan
yang amat dramatis, ditandai dengan perbaikan dalam fasilitas, peningkatan
kualifikasi tenaga guru, dan pengalokasian jam pelajaran 3 jam per minggu, di
samping pendidikan jasmani harian di SD, sementara di pendidikan tinggi
diperkenalkan dari diorganisasi program pemeliharaan kesehatan.
Namun sejak
tahun 1980‑an terjadi kemunduran pendidikan jasmani pada tingkat
global karena pengaruh ekonomi, politik, dan perubahan pada pendidikan itu
sendiri. Krisis pendidikan jasmani, seperti yang dimunculkan dalam kongres
dunia di Berlin tahun 1999 1 terjadi tidak hanya pada tingkat nasional suatu
negara seperti di AS, Australia, Inggris dan Jerman, namun menjadi persoalan
akut di bekas negara blok sosialis (Foldesi, 1993; dalam Naul, 1994). Bahkan
dalam paparan Ken Hardman pada konferensi internasional di Bangkok diungkapkan
yakni tidak banyak perubahan atau kemajuan yang dicapai sebagai implementasi
dari Deklarasi Berlin. Konferensi internasional bertema Sport and Education di
Bangkok (2005) kembali mengetengahkan isu keterlaksanaan pendidikan jasmani,
seperti dipaparkan oleh Ken Hardman, sampai pada kesimpulan yakni tidak banyak
perubahan yang dicapai pada tataran praksis. Lahirnya Bangkok Agenda, sebagai “gong”
dari konferensi bertujuan untuk mengakselerasi perubahan untuk mendorong
peningkatan mutu pendidikan jasmani, yang juga untuk tujuan yaitu peningkatan
mutu pendidikan.
Rangkaian
pembahasan tentang pemberdayaan pendidikan jasmani ini berlanjut dalam kongres
internasional ke‑46 ICHPERSD (International Council on Health, Physical
Education, Recreation, Sport ‑.md Dance) di Istambul (2006) yang menghasilkan
pemikiran tentang visi dan misi baru peindidikan iasmani, termasuk
komponen‑komponen pendidikan jasmani yang dipandang bermutu.
Lingkup
Batang Tubuh Pedagogi Olahraga
Beberapa
definisi tentang pedagogi olahraga, seperti dikembangkan di Eropa lebih merujuk
kepada segenap upaya yang mengandung maksud dan tujuan yang bersifat mendidik,
meskipun ada kecenderungan ke arah penyempitan makna semata mata menelaah
proses pengajaran belaka, seperti misalnya dikatakan “sport pedagogy deal
teaching rind learning of all age group … target group are individual with low level
of performance,” atau ” sport pedagogy is constituted in the actors and
actions of teaching and learning purposeful human movement. Dalam ungkapan
yang Iebih umum dan luas disebutkan bahwa pedagogi olahraga adalah ” the science
… which is concerned with the relationship between sport and education (misalnya
dalam tulisan Grupe dari Kurz).
Definisi ini
sangat membantu untuk memahami bahwa lingkup pedagogi olahraga banyak berurusan
dengan segenap upaya yang bersifat mendidik yang sarat dengan misi dalam rangka
proses pembudayaan, khususnya transformasi, nilai‑nilai inti yang memang,
jika disimak secara cermat, bahwa olahraga itu sangat kaya dengan potensi dan
kesempatan dalam pembekalan kecakapan hidup. Tidak berlebihan, seperti telah
disinggung pada awal naskah ini, bila mantan Sekjen PBB Kofi Anan sendiri
menyebut olahraga itu sebagai “school of life” karena di dalamnya serba ada,
sebuah gubahan kehidupan kemasyarakatan pada tingkat mikro. Misalnya, betapa
kegiatan olahraga itu melibatkan dan sekaligus menggerakkan emosi dalam lakon
hubungan antar orang, yang karenanya menjadi sebuah realita yakni manakala
olahraga yang dibina dengan baik kegiatan itu akan menjadi sebuah adegan
pergaulan yang efektif untuk membina pengendalian emosi atau memupuk kecerdasan
emosional, bila kita meminjam konsep emotional intelligence yang dipopulerkan
oleh Goleman akhir‑akhir ini.
Tidak
dipungkiri bahwa seluruh lakon gerak insani yang sadar dan bertujuan dalam
konteks olahraga itu melibatkan sebuah mekanisme kerja sistem persarafan dalam
sebuah koordinasi yang luar biasa cepat dan rapih, mekanisme persepsi dan aksi
yang sinkron yang dibuahkan dalam bentuk pembuatan keputusan yang cepat,
pemecahan masalah yang jitu selain kreativitas, seperti tampak dalarn peragaan
para atlet tingkat tinggi (misalnya tampak dalam peragaan pemain profesional
bola basket dan sepakbola). Unsur estetika melekat kuat di dalamnya dalam ujud
irama dan tampilan yang anggun dan selaras untuk berekspresi (lihat misalnya
dalam tampilan atlet figure skating). Pengembangan potensi sekaligus
pembentukan jelas‑jelas terjadi melalui semua adegan yang bersifat mendidik,
dan dalam kaitan itu pula mengklaim bahwa pendidikan jasmani dan olahraga
berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan yang bersifat menyeluruh sangat
dapat dipertanggung jawabkan.
Bahwa proses
ajar merupakan bagian dari keterjadian pendidikan jasmani dan olahraga, harus
diakui, dan perubahan ]aku yang dimaksud memang terjadi melalui proses itu.
Itulah sebabnya pada tataran praktis disyaratkan harus selalu terjadi proses
transaksi antara guru dan peserta didik, yang berimplikasi pada pertanyaan,
yakni apa sesungguhnya substansi yang disampaikan oleh guru kepada peserta
didik, dan karena itu, pengetahuan apa yang terkandung dalam substansi
yang disampaikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, Kritik keras
masyarakat, terutama orang tua terhadap profesi pendidikan jasmani dan olahraga
ialah bahwa hanya sedikit terjadi dan bahkan ada tuduhan sama sekaligus tidak
berlangsung proses ajar. Telah terjadi proses pengerdilan tujuan pendidikan itu
sendiri yang lebih bernuansa fisik‑keterampilan, dan itupun hanya tercapai
sedikit sekali.
Komplikasi
yang terjadi benar‑benar pada tataran praktis, bukan teoretis yang berakibat
fatal bagi turunnya wibawa para pemangku profesi itu. Sungguh tidak terelakkan
bahwa kesenjangan antara harapan dan kenyataan memang telah terjadi dalam
pencapaian tujuan pendidikan jasmani dan olahraga yang terkait dengan kelemahan
dalam hal kejelasan landasan keilmuannya dan keterhubungan antara aspek
teoretis dan praktis.
Untuk
mengenal lingkup pengembangan batang tubuh pedagogi olahraga Pokok pikiran Lee
Shulman (1987) tentang tujuh kategori pengetahuan, sangat membantu untuk
menjawab persoalan, apa landasan keilmuan utama pendidikan jasmani dan
olahraga. Di Amerika sendiri, seperti laporan Christensen, bahwa dalam proses
belajar mengajar pendidikan jasmani dari olahraga ( 1996), ketujuh kategori ini
digunakan sebagai sumber yang paling sering dipakai NCATE (National Council
on Accreditation for Teacher Education) dalam melaksanakan akreditasi guru
pendidikan jasmani. Kupasan singkat tentang wilayah kajian pedagogi olahraga
ini juga pernah dipaparkan dalam ceramah Schempp (1993) yang berjudul The
Nature of Knowledge in Sport Pedagogy.
Ketujuh
kategori pengetahuan tersebut di atas sebagai berikut:
- Content knowledge
- General pedagogical knowledge
- Pedagogical content knowledge
- Curriculum knowledge
- Knowledge of educational
context
- Knowledge of learners and their
characteristics
- Knowledge of educational goals
Ketujuh
kategori pengetahuan yang melandasi sekaligus mendukung proses belajar mengajar
pendidikan jasmani dari olahraga itu pada dasarnya dapat dipakai sebagai
rujukan bagi pengembangan batang tubuh pedagogi olahraga. Ketujuh pengetahuan
yang bersifat umum itu menunjukkan potensi pedagogi olahraga untuk
mengintegrasikan pengetahuan dari subdisiplin ilmu keolahragaan lainnya yang
menjadi landasan teoretis penyelenggaraan pendidikan dalam konteks pendidikan
jasmani dan olahraga pada umumnya. Menjadi lebih unik pengetahuan yang dimaksud
karena ada tiga kategori pengetahuan yang mesti dikuasi oleh guru pendidikan
jasmani. Kategori pertama, pengetahuan teoretis konseptual, kategori kedua
pengetahuan tentang prosedur penerapan, dan kategori ketiga, penerapan
pengetahuan yang bersifat situasional.
Content
knowledge
Meskipun
pendidikan jasmani itu merupakan proses sosialisasi melalui aktivitas jasmani,
tetapi dalam setiap tugas ajar itu terkandung pengetahuan yang mesti dikuasai
oleh peserta didik. Pengetahuan itu berkisar di seputar penguasaan konsep
gerak, dan karenanya, apapun jenis substansinya permainan dan olahraga selalu
diarahkan pada kemampuan Untuk memahami alasan‑alasan di balik setiap tampilan.
Karena substansi tugas ajar dalam kurikulum pendidikan jasmani di Indonesia
umumnya berisi kecakapan dan/atau keterampilan berolahraga, tidak dapat
dielakkan, begitu kuat dan sarat bobot pengetahuan berkenaan dengan
cabang‑cabang olahraga yang dianggap esensial, seperti atletik, senam, renang
dan beberapa cabang olahraga permainan yang popular (misalnya, sepakbola, bola
voli, bola basket, bulutangkis, dan lain‑lain).
Para siswa
atau atlet yang terampil biasanya menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi dalam
pemecahan masalah ketimbang para pemula. Hal ini berimplikasi pada pentingnya pengemasan
substansi untuk lebih mudah dipahami, dan karena itu peranan Media seperti
rekaman video sangat membantu para siswa untuk menguasai konsep gerak. Itulah sebabnya
konsep perhatian (attention) banyak dibahas dalam teori belajar gerak, seperti
halnya teori memori dan visualisasi. Betapa pentingnya penyampaian informasi
konsep gerak, termasuk “kunci” pelaksanaannya sehingga pengetahuan itu menjadi
lebih terstruktur yang menyebabkan persoalan yang menentukan bukan banyak
sedikitnya informasi yang disampaikan, tetapi bagaimana membuatnya menjadi
jelas Menurut persepsi para siswa atau peserta didik.
Saya menduga
dalam  hal  itulah sebuah titik lemah dalam proses pengajaran,
lebih‑lebih proses pelatihan atau coaching olahraga prestasi tingkat
tinggi, yang kebanyakan lebih tertuju pada peragaan keterampilan, tanpa
pengarahan agar para siswa atau atlet, memahami alasan‑alasan di balik semua
tampilannya.
Tampaknya
masih jarang dibahas, seperti di Indonesia berkenaan dengan sekuen atau tata
urut substansi pengetahuan. Bagaimana menciptakan hubungan antara pengetahuan
masa lalu dan pengetahuan baru menjadi sebuah isu bukan saja pada tataran
akademik, tetapi lebih penting pada tataran praksis. Topik ini berkenaan dengan
bagaimana guru atau pelatih mendorong siswa atau atletnya untuk berpikir
pengalaman masa lalu dan pengetahuan baru yang berkaitan dengan tema‑tema
pembelajaran dalam pendidikan jasmani. Hal ini tentu ada pula kaitannya,
penyesuaiannya dengan karakteristik peserta didik.
Ringkasnya,
pengetahuan tentang saja isi ini saja berkenaan dengan subjek yang diajarkan,
persepsi dan tanpa itu maka tidak ada pengajaran sehingga pengetahuan dan
sekaligus kecakapan dalam konteks pendidikan jasmani yang mengandung isi
pendidikan melalui aktivitas jasmani, perlu dikuasai oleh guru yang
bersangkutan. Esensi dari substansinya ialah pengetahuan tentang gerak insani
dalam konteks pendidikan yang terkait dengan semua aspek pengetahuan untuk
memahami peserta didik secara utuh.
General
pedagogical knowledge
Pengetahuan
ini mencoba untuk menyingkap kaitan antara perilaku guru dan hasil belajar pada
siswa. Cakupannya, meliputi:
- kemampuan umum dalam mengelola
dan merencanakan unit pengajaran;
- pengelolaan dan
pengorganisasian kelas;
- metode/teknik pengajaran; dan
- evaluasi persepsi penentuan
(grading) nilai siswa.
Penelitian
dalam kategori ini berkisar pada tema jurnlah waktu aktif belajar (Active
Learning Time), pembuatan keputusan, efektivitas pengajaran dan manajemen
kelas.
Pedagogical
content knowledge
Pengetahuan
ini berkenaan dengan bagaimana mengajar sebuah subjek atau topic bagi
sekelompok peserta didik dalam konteks yang spesifik. Pengetahuan ini juga
terkait dengan:
- tujuan pengajaran sebuah subjek
pada tingkat kelas yang berbeda;
- konsepsi dan miskonsepsi siswa
mengenai suatu subjek;
- material kurikulum suatu
subjek;
- strategi pengajaran bagi sebuah
topik.
Curriculum
knowledge
Pada skala
makro. pengetahuan ini berkaitan dengan tipe kurikulum dalam pendidikan
Pengetahuan ini berkenaan dengan isi dari program yang berorientasi pada
prinsip pertumbuhan dan perkembangan peserta didik jasmani, suatu bidang yang
paling terbengkalai pengembangannya di Indonesia baik secara teoretis maupun
praktis.
Diskusi dari
pengembangan model kurikulum pendidikan jasmani di Indonesia masih sangat
banyak memerlukan dukungan fakta empirik di lapangan. Karena itu perbincangan
tentang kurikulum, yang kedudukannya amat strategis untuk pencapaian tujuan
pendidikan membutuhkan banyak penelitian. Hanya sedikit pikiran kritis misalnya
untuk mengkaji ulang implementasi model kurikulum pendidikan jasmani yang
berorientasi pada “pelestarian kultur olahraga” dalam nuansa “sporting based
approach” yang banyak dipengaruhi oleh para pendukung pengembangan olahraga
elit‑kompetitif.
Dalam bentuk
serpihan program tidak terstruktur program yang berbasis pada upaya peningkatan
kebugaran jasmani di sana sini tampak diterapkan dengan munculnya aneka Senam
Kebugaran Jasmani (SKJ) yang dalam banyak hal menyulitkan para guru dan siswa
akibat struktur gerak atau tugas geraknya, sedemikian formal, tanpa dukungan
riset untuk kemudian diadakan perubahan. Model kurikulum berbasis pengetahuan
biologis ini yang dikenal dalam istilah ‘gerak badan” atau “taiso” semasa
pendudukan Jepang, pernah diterapkan di Indonesia. Model pendidikan gerak yang
sering dijumpai pada program SD, seperti saya lihat di Australia, masih jarang
dikembangkan di Indonesia.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan kurikulum pendidikan jasmani di
Indonesia merupakan wilayah pengembangan pengetahuan yang memerlukan prioritas,
karena berpangkal dari model kurikulum itulah kemudian banyak muncul persoalan
dalam penerapannya.
Knowledge of
educational contexts
Semua
program pendidikan jasmani berlangsung dalam konteks yang beragam. yakni yang
dapat mempermulus atau iebalikiiya menghambat pelaksanaan pengajaran. Yang
dimaksud dengan konteks atau tata latar adalah keseluruhan faktor yang
mempengaruhi apa dan bagaimana isi diadakan dan dipelajari dalam sebuah
program. Dalam lingkup yang lebih luas kita dapat mengamati betapa besar
variasi dari perbedaan lingkungan lembaga pendidikan antara sekolah di
perkotaan, pedesaan, atau yang terdapat di pesisir dan di daerah belantara,
daerah‑daerah terpencil. Kebanyakan lingkungan semacam itu relatif stabil,
tetap, dan arena itu hanya sedikit kemampuan guru untuk mengubahnya. Hal
terbaik yang dapat dilakukannya ialah ia mesti dapat membiasakan diri
menghadapi lingkungannya dan  an mampu memanfaatkan secara
maksimal semua  potensi untuk mendukung pengajaran. Ini berarti bahwa
faktor lingkungan ini tidak dengan sendirinya menjadi penghambat, dan bahkan
program pendidikan jasmani itu berlangsung dalam konteks yang memungkinkan para
guru untuk memperoleh pilihan yang banyak bagi pengajarannya.
Penjelasan
ini mengingatkan guru pendidikan jasmani saya pada tahun 1962, yang
memanfaatkan sebatang pohon karet di halaman sekolah, ketika kami menempuh
pendidikan di SGA Kuala Kapuas. Salah satu tugas ajar yang tidak dapat saya
lupakan ialah “memanjat pohon karet itu,” sebuah tugas yang memerlukan
ketangkasan, kekuatan. dan bahkan keberanian.
Contoh
pengalaman ini membenarkan pernyataan bahwa setiap sekolah memiliki
karakteristik yang unik yang dapat memberikan peluang dan tantangan bagi guru
pendidikan jasmani. Guru perlu memahaminya karena konteks situasi pengajaran
mempengaruhi bagaimana guru mengembangkan, apa keterampilan yang mereka perlu
kuasai, bagaimana pikiran mereka tentang keterampilan tersebut, dan apa yang
mereka pikirkan tentang tujuan bagi program pendidikan jasmaninya.
Pengetahuan
ini berkenaan dengan dampak lingkungan terhadap pengajaran, yang meliputi
faktor lingkungan fisikal dan sosial di dalam dan di sekitar kelas, termasuk
pengetahuan tentang kegiatan kerja dalam kelompok atau kelas, pembiayaan
pendidikan, karakteristik masyarakat dan budaya. Dalam paparannya sebagai
pemakalah kunci pada konferensi internasional AISEP di Lisbon baru‑baru ini,
Richard Tinning dari Queensland University mengangkat proposisinya tentang
kelangsungan pendidikan jasmani dan olahraga yang berorientasi pada keragaman
budaya dan ia mengeritik pandangan yang memahami pendidikan jasmani dan
olahraga sebagai fenomena universal. Lebih rinci lagi, seperti dalam tulisan
Metzler (2000), faktor konteks ini dipaparkan dalam lima faktor utama: (1)
lokasi sekolah, (2) demografis siswa, (3) administrasi. (4) staf pelaksana
pendidikan jasmani, dan (5) sumber‑sumber belajar.
Faktor
lokasi meliputi lingkungan perkotaan, pedesaan, dan pinggiran kota. Yang
berpotensi untuk mempengaruhi pengajaran seperti luas sempitnya pekarangan atau
lapangan yang tersedia, keterjangkauan sekolah yang terkait dengan
transportasi, dan faktor keamanan. Termasuk faktor yang lebih pelik ialah
keadaan iklim, seperti sekolah-sekolah di bagian Indonesia Timur yang banyak
diterpa oleh sinar terik matahari sehingga keadaan ini sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan pengajaran di daerah terbuka. Itulah sebabnya, seperti sekolah‑sekolah
di kota Brisbane, negara bagian Queensland, Australia, para siswanya diharuskan
memakai topi ketika mengikuti pendidikan jasmani untuk mengurangi sengatan
sinar matahari selain mesti membawa minuman untuk mengatasi kehilangan cairan
tubuh.
Knowledge of
learners and their characteristics
Pengetahuan
ini berkenaan dengan proses ajar manusia dan penerapannya dalam pengajaran
pendidikan jasmani dan olahraga. Terliput di dalamnya pemahaman tentang
karakteristik siswa yang amat beragam dari aspek kognitif. emosi, sosial, dan
faktor sejarah dan budaya. Pemahaman tentang peserta didik berkenaan dengan
pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan, learning capacity, perbedaan
bahasa, dan kondisi psikososial yang mempengaruhi sikap dan aspirasi siswa
dalam belajar.
Banyak
uraian kita jumpai tentang prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP)
dalam pengertian penyesuaian substansi, sekaligus metode dan strategi dengan
karakteristik siswa atau peserta didik. Prinsip ini mongukuhkan asas pengajaran
yang berpusat Pada Siswa, dan pemahaman tentang pertumbuhan dan perkembangannya
amat menentukan dalam penyusunan perencanaan, dan menjadi titik awal dalam hill
pemahaman mengenai kebutuhan dan kemampuan siswa.
Sudah lazim
kita pahami tentang konsep perkembangan Kognitif, dan betapa penting bagi guru
Untuk memahami proses kognitif karena mempengaruhi belajar Tahap‑tahap
perkembangan kognitif yang diteorikan oleh Piaget, yakni (1) sensorimotor, (2)
pre‑operational, (3) concret operationals, dan (4) formal operations, banyak
mempengaruhi kurikulum pendidikan jasmani dewasa ini.
Perkernbanggan
gerak yang menunjukkan fase penguasaan keterampilan di sepanjang hayat juga
merupakan titik awal bagi pengembangan model pengajaran. Wilayah binaan yang
tak kalah pentingnya ialah domain afektif yang di Indonesia, karena pengajaran
didikte oleh sistem evaluasi yang serba terukur menyebabkan bagaimana membina
perkembangan afektif ‘ini menjadi kurang sistematik. jika bukan disebut hanya
sebagai dampak pengiring. Betapa pentingnya kecakapan hidup berupa pengendalian
diri yang bertumpu pada pengendalian emosi, sama halnya kemampuan memotivasi
diri disertai dengan ketekunan yang menjadi landasan bagi pencapaian prestasi
dalam bidang apa saja, yang sesuai dengan bakat seseorang.
Adegan‑adegan
dalam permainan atau pelaksanaan tugas ajar dalam konteks pengajaran pendidikan
jasmani, sungguh menyediakan banyak kesempatan bagi pengembangan domain afektif
ini. Kejujuran dan tanggung jawab misaInya banyak sekali dijumpai dalam peristiwa
permainan dan peragaan ketangkasan, dan peluang ini sia‑sia belaka jika tidak
dimanfaatkan sebaik mungkin.
Teori
pemrosesan informasi dan penyimpanannya misalnya telah mencoba untuk mengkaji
persoalan ini dalam konteks penguasaan keterampilan gerak. Upaya ini sangat
bermanfaat untuk memahami proses kognitif yang melandasi kemampuan seseorang
untuk belajar dan memecahkan masalah. Pengetahuan ini disebut “metacognition ”
(pengetahuan tentang proses kognitif yang dimiliki seseorang).
Pengalaman menunjukkan
bahwa kunci‑kunci pelaksanaan tugas gerak yang disampaikan oleh guru atau
pelatih tidak lebih dari sebuah rambu‑rambu ) ang memudahkan siswa atau atlet
untuk mengingat konsepnya, tetapi dalam pelaksanaannya, terutama
keputusan‑keputusan yang bersifat situasional adalah tergantung pada siswa
atau atlet itu sendiri. Fenomena ini tampak misalnya dalam pelaksanaan tugas
gerak yang tergolong “keterampilan terbuka” atau open skill. dalam keadaan,
pangaruh faktor lingkungan sangat dominan sehingga seseorang dihadapkan dengan
tantangan untuk memecahkan masalah sendiri.
Seperti
sudah disinggung di muka perbincangan tentang pentingnya faktor perhatian dan
fenomena arousal atau bangkit yang Mempengaruhi kinerja seseorang Tema ini tak
kalah menariknya dengan tema penyimpanan informasi jangka pendek dan jangka
panjang, penyimpanan perbendaharaan gerak dalam pusat memori Yang kemudian siap
untuk dipanggil kembali.
Teori
motivasi, termasuk jenisnya (intrinsik dan ekstrinsik) tidak kalah menariknya,
sama halnya dengan persoalan “transfer of learning”, bagaimana suatu kecakapan
dam mempengaruhi penguasaan kecakapan baru lainnya dalam bentuk nilai alihan
positif manakala kecakapan lama mendukung atau memperkuat perolehan kecakapan
baru, atau bersifat negatif, bila efeknya sebaliknya.
Berkaitan
dengan persoalan ini dalam konteks pendidikan jasmani, lebih‑ebih dalam
olahraga kompetitif tingkat tinggi sangat dibutuhkan fleksibilitas kognitif,
yakni kecakapan untuk mengevaluasi suatu masalah dari beberapa sudut pandang,
dan kemudian melihat beberapa kemungkinan interpretasinya.
Pengungkapan
pemahaman tentang peserta didik ini, seperti halnya di Indonesia memerlukan
upaya yang lebih banyak melalui penelitian. Beberapa contoh penelitian diluar
negeri berkenaan dengan karakteristik siswa:
- Pengaruh aktivitas jasmani
terhadap self‑esteem (Gruber, 1985)
- Pertumbuhan dan perkembangan
(Broekhoff, 1985)
- Perkembangan sosial (Sage,1985)
- Kognisi siswa (Amelia Lee, dkk
(1992)
Knowledge of
educational goals
Pengetahuan
ini berkenaan dengan tujuan, maksud dan struktur sistem pendidikan nasional.
Apa yang diharapkan guru pada siswa untuk dipelajari di kelas, sehaluan dengan
cita‑cita pembangunan nasional. Pembelajaran berlangsung untuk mencapai
tujuan dalam keadaan peserta didik memiliki kebebasan untuk semua terlibat,
bertanggung jawab dan menikmati iklim kemerdekaan untuk menyelidik, menemukan,
mengembangkan dan memahami keterampilan, menghayati nilai‑nilai yang
dibutuhkan bagi pengembangan sebuah masyarakat madani (civil society) yang
adil. Penelitiannya terkait dengan riset dalam kurikulum studi tentang
orientasi nilai (misalnya, Ennis, 1992), hidden curriculum (misalnya, Bain
(1989); tujuan & nilai pendidikan (misalnya, Hellison, 1993)
Paradigma
Penelitian
Paradigma
positivistik
Seperti
lazimnya disiplin ilmu keolahragaan yang masih muda usianya, maka penelitian
dalam pedagogi olahraga mengadopsi paradigma penelitian yang sudah mapan yakni
paradigma positivistik dan pasca positivistik‑ Pendekatan positivistik
menempatkan proses belajar dan mengajar sebagai “objek” riset yang
“diobjektifkan” sehingga sangat kentara. penerapan prosedur analitis yang
mengandalkan data empirik dalam ujud data kuantitatif yang mengandalkan
instrumen untuk memperoleh data yang dianggap sahih, reliable dan objektif
pula. Pengembangan aneka bentuk tes pada tahun 197O‑an yang masuk ke
Indonesia dalam pendidikan jasmani merupakan buku bahwa paradigma positivistik
ini sangat dominan dengan berbagai masalah pedagogik yang muncul, yang
mempengaruhi iklim belajar yakni proses dipengaruhi oleh prosedur pengetesan,
seperti yang dialami oleh STO Bandung pada tahun‑tahun tersebut, bahkan masih
melekat hingga sekarang ini, terutama untuk mengukur hasiI belajar.
Penerapan
paradigma analisis empiris dalam pedagogi olahraga juga selalu berangkat dari
panduan teori untuk menuntun hipotesis yang selanjutnya memberi arah pada
pengungkapan data yang relevan untuk menguji hipotesis.
paradigma
pasca positivistik
Dalam
konteks pendidikan jasmani dan olahraga, sangat disadari bahwa fenomena gerak
insani itu dipahami tidak lepas dari makna sosial budaya yang menjadi lanskap
pengembangannya, dan bahkan kepercayaan suatu masyarakat, seperti tampak Pada
permainan atau olahraga tradisional, sama sekali tak dapat diabaikan. Itulah
sebab% a dari waktu ke waktu kita dapat menyimak perubahan definisi olahraga
(sport) itu sendiri yang bergeser sesuai dengan persepsi masyarakat, dan di
lain pihak, lingkungan beserta nilai di sekitarnya, ikut membentuk isi kegiatan
olahraga itu sendiri.
Dalam kaitan
itu maka tak dapat dielak bahwa konteks sosial dan asumsi yang melandasi yang
melandasi proses belajar mengajar tidak dapat diabaikan yang selanjutnya
melandasi pengetahuan dan tindakan guru dalam menyelenggarakan proses belajar
mengajar. Karena itu proses transaksi dalam mengajar‑belajar tak dapat
dipahami semata‑mata sebagai hubungan timbal balik antara stimulus‑respon
secara mekanistik karena ada unsur penyela yang bersumber dari berbagai
faktor baik pada guru ini sendiri Maupun pada peserta didik. Selain itu,
Pengungkapan fakta dalam konteks pendidikan jasmani dan olahraga sangat
dipahami, baru sampai pada “penghampiran” belaka, seperti misalnya, betapa
besar “kekuatan otot” seseorang dalam konsep strength misalnya, meskipun kini
banyak instrument yang dianggap akurat dan canggih.
Dengan
demikian paradigma pasca positivistik makin banyak dan mulai sering diterapkan
dalam pengembangan pedagogi olahraga terutama untuk mengkaji proses
pembelajaran.
Kesimpulan
Pedagogi
olahraga (sport pedagogy) adalah sebuah disiplin ilmu keolahraga yang masih
muda usianya dengan kedudukan sangat berpotensi untuk mengintegrasikan
subdisiplin iImu keolahragaan lainnya untuk mendukung pemahaman bagi
kelangsungan proses pembelajaran atau tindakan yang bersifat mendidik. Proses
pembelajaran itu melibatkan keterjadian transaksi antara guru dan peserta
didik, dan dalam proses itu penguasaan 7 kategori pengetahuan menjadi amat
penting yang dipandang sebagai batang tubuh pengetahuan pedagogi olahraga.
Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan jasmani, pengembangan
model‑model pengajaran berlandaskan pada batang tubuh pengetahuan tersebut.
Untuk
penyelenggaraan pengajaran yang berhasil dalam pendidikan jasmani dan olahraga,
ketujuh kategori pengetahuan itu tidak saja dapat diungkapkan kembali oleh guru
yang bersangkutan, tetapi pengetahuan itu harus sampai pada tataran penerapan
Pada waktu sebelum, selama dan setelah pengajaran berlangsung. Lebih rumit lagi
karena pengetahuan itu harus dapat diselaraskan dengan kondisi pengajaran yang
berubah‑ubah yang amat spesifik pada setiap saat.
Pengembangan
pedagogi olahraga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan mutu pendidikan jasmani
dan olahraga khususnya di lingkungan lembaga pendidikan formal dan non‑formal,
Karena itu, penelitian untuk mengembangkan batang tubuh pedagogi olahraga di
sekitar 7 kategori pengetahuan sangat diperlukan dengan menerapkan paradigm
penelitian yang sesuai dengan topik masalahnya. Tradisi penggunaan analisis
secara empiric masih populer, meskipun pendekatan kualitatif kian menunjukkan
peningkatan dalam penerapannya sekitar dua dasawarsa, meskipun masih amat
terbatas di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar